Menata Jakarta tidak Semudah Solo ( 2 )

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang pengalaman penulis di solo , pada kesempatan ini marilah kita membandingkan masalah yang akan dihadapi Jokowi di rantauan sana , akankah berjalan mulus?

Mobilitas

20120628-225421.jpg
Macet di Jakarta

Apa lagi masalah utama di Jakarta kalau bukan macet , salah satu masalah yang belum dapat dipecahkan hingga sekarang. Proyek Monorel dan MRT mandek , Busway sering delay . Kopaja dan Metromini tidak layak . Bahkan Jakarta mengalami kerugian 45 Triliun setiap tahunnya karena pembuangan sumber daya bensin di jalan dan rendahnya mobilitas ( http://m.detik.com/read/2011/03/17/114457/1594024/4/warga-jakarta-rugi-rp-43-triliun-per-tahun-akibat-macet ) . Gubernur saat ini telah mencanangkan contraflow atau rekayasa traffic , serta pembangunan Jalan Layang Non Tol serta Jalan Tol dalam Kota. Walau terkesan tambal sulam Apa yang telah dilakukan Jokowi dikampungnya sehingga optimistis menyelesaikan tugasnya dengan mulus di perantauan?

Solo memiliki railbus Solo Wonogiri , yang sampai saat ini masih kurang efektif penggunaannya. Untuk dalam kota banyak persimpangan yang tidak menggunakan traffic light , hanya menggunakan Supeltas dan bahkan sering sekali merenggut korban jiwa ( http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/05/20/118912/Rawan-Kecelakaan-Sejumlah-Persimpangan-di-Solo-Perlu-Traffic-Light )

Bayangkan persimpangan di Jakarta yang sepadat dan semacet itu dicabut traffic light nya dan diberi satu supeltas ditengah? Tentu yang terjadi bukan mengurai kemacetan justru semua akan saling mendahului dengan egonya masing masing , elo elo gue gue..

Banjir

20120628-230832.jpg
Banjir lagee

Masalah banjir di Bengawan Solo pun belum selesai , dijamin setiap hujan akan meluap ke kampung dan sawah warga ( http://news.okezone.com/read/2012/01/02/340/550632/banjir-solo-bukan-kiriman-waduk-gajah-mungkur )

Di tulisan tersebut terlihat bahwa pemda hanya menyalahkan kiriman dari waduk gajah mungkur . 9 kelurahan terendam dan petani panen dini ( http://nasional.vivanews.com/news/read/280533-bengawan-solo-banjir–petani-panen-dini ) . Padahal banjir di Bengawan Solo merupakan ritual tahunan , sama seperti Ciliwung dan Sungai sungai di Jakarta. Jika Jokowi menjadi pucuk pimpinan Jakarta , siapa ya yang nanti disalahkan karena banjir? Banjir Kanal Timur dan Barat yang belum jadikah?

Apa penyebabnya?

Saya mengerti bahwa Jokowi merupakan sosok hebat yang merakyat , begitu pula Foke yang jebolan Tata Kota Jerman yang merintis karir dari bawah . Masalahnya adalah mahalnya sistem birokrasi kepartaian di negeri ini. Mulai dari biaya saat pencalonan lewat partai yang milyaran jumlahnha hingga setoran ke partai ketika menjabat. Bahkan hampir semua partai pada Pilgub DKI kemarin mengajukan calonnya di menit menit terakhir . Masalahnya tentu tak lain adalah lobi dan uang dari banyak calon yang berbicara untuk dimajukan.

Calon independen selain tidak terikat pada partai tentu seorang profesional yang tergugah hatinya untuk mengatasi begitu bertumpuknya masalah di bumi pertiwi ini. Kalau filsuf yunani mengatakan ‘ Modern Democracy is Party Democracy ‘ . Sekarang Yunani telah ada di ambang kebangkrutan karena keserakahan partynya yang tidak mau berkoalisi dan mewujudkan demokrasi yang sebenarnya. So , what’s your Modern Democracy?

Categories: Jakarta, Ulasan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: