Menjual Diri di Hati Rakyat Jakarta..

Sebentar lagi , Kita harus memilih , Foke atau Jokowi , Jadi Gubernur DKI!

Apa yang membedakan Apple dengan produsen gadget lainnya? Apa yang membedakan Amazon dengan situs e-commerce lainnya? Apa yang membedakan, sekali lagi, apa yang membedakan antara Jokowi-Ahok dengan pasangan cagub lainnya? Kreatifitas. Pada kehidupan hari ini, kreatifitas itulah yang menjadi pembeda. Mengebiri budget namun berdampak hebat. Low budget, high impact. Orang pintar sudah banyak bertebaran di bumi ini mengingat mudahnya akses pendidikan dan meningkatnya daya beli masyarakat, tapi bukan hanya pintar yang dibutuhkan bumi ini dan dalam konteks pilkada ini yang dibutuhkan jakarta , adalah gubernur yang kreatif dan mengerti rakyatnya.

Figur yang dipoles-poles tentu sah-sah saja, tapi dia akan terverifikasi dengan terang melalui sosial media. Jokowi plus Ahok membuktikannya. Betapa banyak kisah positif yang menyebar dengan mudahnya lewat sosial media, di saat yang sama kampanye negatif pun dengan mudah patah. Karena memang tingginya pengguna media sosial dan internet di indonesia serta semakin terbukanya wawasan rakyat atas hal hal baru. Seperti halnya “doktrin” Jokowi dan Ahok yang merasuki insan Jakartanese layaknya Jokowiwave..

Tim sukses Jokowi pun pastinya bukan orang sembarangan karena didanai oleh sosok purnawirawan jendral dibelakangnya, adalah Boy Sadikin anak Ali Sadikin sang Gubernur Jakarta , Menteri Perhubungan dan Ketum PSSI Jaman orde baru, yang tentu tahu seluk beluk masyarakat jakarta dan indonesia atas asam garam kehidupan yang telah ditempuh sang ayah dalam perjalanannya menuju lingkaran cendana waktu itu. Berikut adalah ide ide cemerlang sang nahkoda tim kampanye Jokowi untuk mengantarkannya memenangi 40% suara pada putaran pertama , hasil yang membuat Foke kebakaran kumis.

Figur Jokowi dan Ahok

Nama Jokowi yang sudah meroket jauh sebelum Pilkada Dimulai (wordpress.com)

Siapa sih yang belum kenal Jokowi, Walikota sebuah kota di jalur tengah yang dapat terpilih hingga 90% suara pada putaran kedua. Sosok yang masih langgeng berduet dengan wakilnya di putaran kedua, sesuatu yang jarang sekali terjadi di bumi indonesia ini. Umumnya sang wakil yang memang hanya digunakan sebagai pendongkrak popularitas itu dibuang begitu saja ketika sang kepala sudah menduduki kursi nyamannya di balai kota, atau bahkan istana. Bahkan sang incumbent pun selain ditinggal wakilnya juga dilaporkan ke KPK.

Selain itu juga branding kuat Jokowi akan mobil esemka , mobil yang diciptakan anak SMK di kota solo ini menuai beragam pro dan kontra dalam penggunaannya sebagai mobil dinas sang walikota. Gubernur Jatim dan Jateng pun kompak menyindir jokowi yang hanya mencari sensasi untuk mencalonkan gubernur atau presiden , bahkan disebut sembrono. Tapi rakyat melihat ini sebagai suatu angin segar ditengah penggunaan mobil hammer oleh anggota dpr yang harganya milyaran itu. Serta renovasi toilet dan pengharum ruangan sebesar total 3.5 Milyar.

Dibanding menyebar poster dan beragam baliho di penjuru kota , Jokowi justru lebih memilih cara yang lebih sederhana dan gratis , sesuatu yang sudah membawanya mendapatkan suara 90% pada pencalonannya sebagai walikota solo pada periode kedua. Metode yang digunakan hanyalah komunikasi biasa, mengutarakan program-program nya, namun yang berbeda adalah media nya. Mengunjungi berbagai pemukiman kumuh dan ikut duduk bersila mendengarkan curhatan rakyat , sesuatu yang jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan kebanyakan pemimpin di Indonesia.

Baju Kotak Kotak

Jokowi yang membumi dengan kotak kotaknya (antaranews.com)

Suatu hal yang mengejutkan ketika calon calon pada berbagai pemilihan baik DPD maupun kepala daerah bahkan presiden menggunakan jas yang mahal , baju koko layaknya kyai , ataupun baju khas kedaerahan agar menunjukkan bahwa saya asli betawi , bisa dikalahkan oleh orang berparas ndeso dengan baju kotak kotak , dilinting lagi layaknya pelayan. Tak ada yang mengira, sebuah baju, kotak-kotak lagi, dapat menjadi simbol kampanye yang unik dan mengejutkan. Baju ini laris manis di pasaran. Masyarakat dengan sukarela mengeluarkan uang untuk membelinya. Bukan dengan disebar gratis, seperti umumnya kampanye yang kita lihat.

Di media sosial pun, terdapat berbagai gambar plesetan tentang baju kotak-kota ini yang kian mempopulerkan sosok Jokowi. Pada pilkada Jakarta, baju kotak menemukan monemtumnya, dan ikon kumis berakhir anti klimaks atau justru dicukur bersama oleh warga maya. Jokowi menyatakab bahwa baju tersebut bermakna “menjahit Jakarta yang terkotak-kotak menjadi satu kesatuan” , dan dengan branding jokowi yang sudah membumi pun menjadi kian bermakna di balik bajunya.

Blunder sang Incumbent

Blunder Foke yang justru Mengangkat Nama Jokowi (photobucket.com)

Lu nyolok siapa?. Kalau nyolok Jokowi, di Solo aja sono

Terlepas dari pelanggaran atau bukan atas kalimat yang dicetuskan Foke pada korban kebakaran di Karet Tengsin, pengamat politik DKI Jakarta, Rico Marbun, memandang ucapan Foke sebagai bukti saling serang antar kandidat sekaligus menandakan bahwa Pilgub DKI Jakarta sudah tak sehat lagi. Para calon sering memanfaatkan isu-isu yang tak substantif, seperti SARA, daerah asal, maupun kepribadian. Rico menganalogikan sebagai kulit luar yang dikupas habis-habisan. Tapi rakyat Jakarta sudah kebal dengan hal hal seperti ini dan lebih memilih untuk mempercayai tweet independen layaknya triomacan2000 yang kini juga mulai diragukan kredibilitasnya karena bisa berganti halauan dengan mudah. Istilahnya pendukung karbitan..

Diluar masa kampanye dan dalam berbagai kesempatan, karakteristik gaya kepemimpinan serta personality Foke cenderung tidak stabil secara emosi, terkesan gampang meledak-ledak, emosional, sensitif, dan arogan , tidak jauh beda dengan anak sekolah yang suka tawuran itu.,  Dan yang paling tidak disukai oleh masyarakat Jakarta adalah sifatnya yang defensif dalam menerima kritik, bahkan beberapa kalangan menyebut Gubernur DKI saat ini adalah figur yang anti kritik dan keras kepala.

Foke as Common Enemy and Media Issue

Jakarta berkumis , beresin Jakarta dalam 3 tahun , Coblos surbannya , semua yang memusuhi Foke telah kembali padanya (okezone.com)

Pada putaran pertama hampir semua calon gubernur menyerbu Foke , kecuali sang incumbent yang secara masif membanggakan keberhasilannya membangun satu koridor busway.. Selain itu gaya kepemimpinan dan komunikasi publik Fauzi Bowo cenderung tidak disukai oleh media massa. Banyaknya distorsi komunikasi antara media massa dengan Fauzi Bowo lebih disebabkan faktor pribadi Fauzi Bowo yang cenderung tidak siap dalam menjelaskan berbagai permasalahan Jakarta.

Faktor ini sangat berpengaruh karena realitas politik saat ini cenderung kental di dominasi oleh media dan katanya. Dan ditengah kondisi liberalisasi politik saat ini, media adalah salah satu unsur yang paling menentukan dalam membentuk dan mengkonstruksi image seseorang dan meletakkannya dalam spektrum opini menurut selera fakta pemberitaan di media dan tentu saja sang pemilik media.

Tapi media pun saat ini tidak hanya terbatas pada lingkup tv nasional yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari, kini kampanye pun masif dilakukan menggunakan medsos serupa twitter dan facebook hingga forum interaksi dan citizen jorunalism. Yang justru dilakukan oleh warga negara secara sukarela tanpa dibayar , toh rakyatmu ini ingin didengar tapi tidak tahu kemana mengadu. Ya sosial media jadinya.

Ini hanyalah sedikit review tentang branding personal kedua calon gubernur, semoga keduanya bisa saling memperbaiki diri dan mengetahui kekurangan agar bisa menjadi manusia sempurna yang diharapkan warga jakarta, yang bisa dibilang kiblatnya Indonesia.. Yah , semoga

Categories: Jakarta | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: