Bangsa yang Besar atau “Kelihatan” Besar?

Benarkah Bangsaku ini Bangsa yang Besar? (wikimedia.org)

Gegap gempita proklamasi yang diperjuangkan para proklamator kita, yang baru baru saja mendapatkan gelar pahlawan nasional mungkin sudah lama selesai. Agresi militer yang tak berperi kemanusiaan itu kini mulai berganti dengan perdagangan internasional dan pertukaran pelajar. Pencaplokan wilayah itu kini mulai berganti dengan sister city dan berbagai nama lainnya, yang berguna untuk menancapkan pengaruh asing jauh lebih dalam. Penguasaan lahan dan kerja rodi pun sudah berganti dengan sistem kontrak karya. Tapi apakah penjajahan yang bersifat lebih lembut ini, lebih lembut dari cambukan Belanda ratusan tahun silam?

Kita boleh berbangga sebagai anggota G-20 dengan GDP 840 Milyar US Dollar, berpenduduk terbesar keempat dengan gedung menancap kokoh di penjuru lahan dan kehidupan yang semakin membaik. Kita boleh berbangga dengan negara kita yang tenang saja digempur krisis moneter diluar negeri yang menghancurkan banyak perusahaan dan negara. Tapi benarkah semua kebaikan itu baik untuk kita?

Hutang kita saat ini berada pada posisi Rp. 2000 Triliun , sebuah angka fantastis dimana perbandingannya dengan APBN tahun 2013 saja yang hanya berjumlah Rp. 1600 Triliun, yang tentu saja hutang itu akan bertambah karena APBN ini tidak mungkin surplus, karena memang dibuat begitu untuk ditilep sana sini. Kita lihat Dahlan yang semakin cemas akan posisinya karena dipermainkan oleh oknum anggota dewan. Beliau menjadi salah karena menjadi satu satunya orang yang melakukan hal benar.

Disaat subsidi untuk energi yang semuanya memang disetorkan ke BUMN melesat hingga 400 Triliun tahun ini, Pertamina berencana untuk menjadi sponsor sebuah klub besar di itali, AC Milan. Menyusul kawan kawannya Garuda di Liverpool dan BNI di Chelsea. Semoga PLN tidak menyusul.

Belum lagi carut marut korupsi Hambalang yang sampai saat ini saja belum selesai, ditambah Century yang melibatkan banyak oknum terutama untuk pemenangan pemilu 2009. Ditambah saat ini proyek MRT yang diindikasikan menguntungkan sebagian oknum tuan tanah dan banyak lagi proyek gurem di daerah yang tidak jelas peruntukannya. Di daerah pun bahkan sudah seperti siklus bahwa sesudah selesai menjabat , kpk menunggu. Bahkan dengan hitung hitungan pun penulis berasumsi bahwa dengan korupsi beragam proyek selama 5 tahun dan nantinya pasti hanya akan diperiksa pada satu kasus yang hanya dipenjara selama maksimal 5 tahun. Dengan grasi presiden dan pembebasan berkala selama 1/3 masa tahanan. Oknum tersebut hanya perlu 2 tahun di penjara dan menyiapkan uang ala kadarnya untuk keluar masuk penjara. Yang tentu saja sangat kecil dibanding korupsinya dan proyek proyeknya.

Pihak asing pun tidak segan segan menyedot darah negeri ini yang sudah diambang kematian karena kekurangan darah, masih banyak kontrak karya yang tidak seimbang, dan tidak pernah dibahas. Bahkan untuk pembayarannya SBY sampai diberi gelar kesatria hanya untuk memuluskan jalan agar salah satu perusahaan inggris tersebut tidak diutak atik oleh pemerintah.

Olahraga yang biasanya menjadi pemersatu bangsa pun tidak lagi bersatu bahkan dalam manajemennya. Ketika timnas kekurangan pemain pun KPSI tidak mau melepaskan pemain pemainnya untuk mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Dana dari Kemenpora pun belum turun padahal ini sudah akir tahun dan piala dunia, atau piala AFF bila kita sudah pesimis, ada di depan mata. Timnas saja carut marut apalagi liga yang baru akan dimulai besok Januari, sangat jauh terlambat dibanding negara lain bahkan Singapura , Malaysia , dan negara Asean lain yang sudah memulainya sejak beberapa bulan yang lalu. Padahal bila ditelaah Persepakbolaan indonesia bisa mendapat dana yang tidak sedikit dari mulainya liga di jadwal yang semestinya. Mulai dari royalti dan berbagai macam sponsorship siap menyambut sepakbola indonesia, untuk bangun dari tidurnya.

Perjuangan Belum Selesai

Jalan kita masih jauh (kidsklil.com)

Indonesia memang negara yang masih sangat dini, tidak perlu dibanding bandingkan dengan Cina yang sudah mendirikan kekaisarannya sejak 221 SM , atau Amerika yang sudah merdeka sejak tahun 1776. Tahun 1945 serasa masih kemarin, kita baru menyebut diri kita bangsa indonesia sejak 67 tahun yang lalu. Dan era global yang dinamis ini menuntut kita untuk setara atau bahkan melebihi bangsa bangsa besar yang telah lebih dulu makan asam garam dunia ini. Layaknya seorang murid yang dituntut di sekolah oleh semua guru untuk pintar semua pelajaran, bahkan lebih pintar daripada gurunya.

Tapi setidaknya kita bisa belajar dari sejarah dan tidak mengulangi segala kesalahan yang telah dilakukan bangsa bangsa tersebut. Negara Amerika yang tersohor menjunjung tinggi hamnya pada jaman awal kemerdekaannya masih berperang untuk mengusir kaum asli indian dari tanahnya sendiri, bahkan rasisme itu sampai sekarang masih mengakar kuat. Cina dan soviet pun sama sama pernah terjatuh , bahkan tak bisa bangun lagi karena kasus korupsinya yang melibatkan segala unsur pemerintah di segala lini yang akhirnya menghancurkan bangsa itu sendiri. Korupsi layaknya orang yang mengambil jatah kesuksesannya di masa depan.

Kita bisa lihat negara sebesar korea selatan yang ekonominya tak diragukan lagi, masih belum bisa untuk mengharmoniskan hubungan dengan negara tetangganya , Korea Utara yang sampai detik ini masih berstatus berperang karena hanya mengantongi perjanjian genjatan senjata, bukan Treaty Peace. Mesir yang sudah berdiri sejak jaman sebelum masehi dengan Firaun nya pun bisa tumbang seketika karena rakyat merasa disingkirkan dan kebijakan pemerintah yang terlalu memihak kepada Barat.

Kita bisa belajar dari negara jerman, yang bisa bangun lagi menjadi negara besar dua kali berturut turut, walaupun dibebani biaya perang atas kekalahannya di dua perang dunia dan dimusnahkan rata dengan tanah sebagai pembalasan dendam negara negara sekutu. Atau Singapura negara kecil yang bendera bahkan asas negaranya mengambil 3 dari 5 sila pancasila kita bisa semakmur itu. Mengapa kita yang memiliki kelimanya secara sempurna masih berjalan tertatih tatih sementara Singapura bisa menginjak kita kapan saja?

Menurut saya , kita harus mempunyai pahlawan kemerdekaan yang ketiga dan yang keempat. Yaitu Soekarno-Hatta masa depan yang akan membawa perubahan Indonesia ke cita cita bangsa sebenarnya , yang memajukan kesejahteraan umum , yang akan menjadikan bangsa indonesia ini bangsa yang besar , bukan cuma kelihatan besar. Dan melepas taring bangsa asing yang menancap kuat di negeri ini bahkan menancapkan pengaruh pancasila yang bercita cita mulia ke seluruh penjuru dunia.. Bukan hanya berorientasi untuk pencintraan dan prihatin seperti saat ini. Salam Prihatin!

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Bangsa yang Besar atau “Kelihatan” Besar?

  1. Ping-balik: Conte Akan Segera Diperiksa | soccernews.me

  2. Ping-balik: Semakin Tenang karena Sang Suami Berubah | gilabola.biz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: