Mengharapkan Bola Panas Bernama Kesempatan Kedua

Hari ini mungkin hari biasa , hari midweek , bahkan hari tua. Hari yang umumnya dilalui dengan biasa oleh orang yang memang biasa biasa saja seperti penulis . Ditengah percakapan yang cukup mengocok perut tadi siang , seorang teman tiba tiba berkata diluar dugaan dengan pertanyaan yang mengubah suasana menjadi hening.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu dilahirkan kembali?

Banyak kenangan yang tiba tiba terlintas begitu saja, ada kenangan yang menyenangkan dan tak sedikit pula yang menyedihkan. Tapi wajah yang sudah dibuat buat siang tadi ini dengan hanya membalasnya dengan candaan merasa bersalah. Apakah saya memang tidak mau dilahirkan kembali? ( kalau memang bisa ) Selama mimpi masih gratis memang tidak ada salahnya untuk bermimpi, karena juga tidak tertutup kemungkinan akan dikenakan pajak setelah pajak warteg yang menghebohkan jagat nusantara beberapa waktu lalu.

Hidup satu kali lagi.. (life.times.com)

Renkarnasi

Membicarakan tentang dilahirkan kembali tentu tidak akan jauh jauh dari topik renkarnasi yang lazim dibahas oleh penganut Hindu Budha yang mempercayai bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil pebuatannya terdahulu. Kita tidak perlu lagi mempermasalahkan mungkin tidaknya renkarnasi ini akan terjadi karena sudah merupakan kepercayaan agama yang telah menjadi hak warga negara untuk menganutnya dan kewajiban warga negara lain untuk menghormatinya.

Godaan dalam hidup tentu saja sangat banyak, godaan bagi yang hidup di tengah kota untuk terus berbelanja dan segera piknik saat weekend melepaskan kepenatan . atau yang hidup di dalam gua untuk sekedar bertapa pun pasti lebih besar godaannya untuk sekedar melihat cahaya matahari dan mengisi perut. Inilah yang perlu dipelajari dari Hindu-Budha , kesabaran.

Melatih kesabaran tentu cukup sulit mengingat terbukanya kemungkinan untuk melakukan hal hal yang sebenarnya bersebrangan dengan anjuran dan norma di sekitar, yang sudah seakan tidak peduli lagi dengan keadaan lingkungan. Banyak sekali saat ini ditemukan pemuda yang menggunakan narkoba , yang mabuk di jalan mengganggu pengguna jalan lain, yang bila diingatkan justru malah memancing emosinya yang bisa bisa mengarah pada kematian yang mengingatkan. Ingat film The Amazing Spiderman ketika Paman Parker dibunuh sang pencuri yang merampok toko, yang si Parker biarkan saja untuk membalas dendamnya? Ya , dia menjadi yang bersalah karena menjadi satu satunya orang yang melakukan hal benar

Menjadi yang bersalah karena menjadi satu satunya orang yang melakukan hal benar

Menyalahkan yang Benar

Benarkah itu Salah? (brainlesstales.com)

Kejadian Peter Parker itu walaupun terjadi dalam konteks yang berbeda, dengan latar dan tokoh yang berbeda, terjadi dimana mana dengan alur yang sama. Menyalahkan yang benar. Kita bisa melihat sendiri di TV bagaimana seorang Dahlan Iskan yang dulunya bersih membangun nama besarnya dari seorang jurnalis hingga menjadi pemilik Jawa Pos. Memperbaiki listrik Indonesia yang dulu sering mati saat pertandingan Thomas Cup sebagai Dirut PLN. Kini nasibnya diping pong DPR dengan beragam isu karena mengadukan nama nama pemeras BUMN, yang padahal sudah bukan rahasia lagi umumnya wajib setor setengah bahkan lebih dari biaya proyek untuk memuluskan jalan memenangi tender.

Kasus Antasari Azhar yang konyol itu pun bermuara dari menumpuknya kebencian politikus Senayan dan Istana atas dipenjarakannya berbagai tokoh penting dan diungkapkannya skandal skandal raksasa. Bagaimana bisa dinalar seorang Ketua KPK berebut Caddy Golf yang wajahnya tidak begitu cantik sampai membunuh saingannya yang seorang pemilik perusahaan besar waktu itu. Begitu pula Nazarudin yang awalnya bebas melintang dikorbankan karena berkicau tentang kasus teman temannya.

Memang sudah tidak asing lagi sebuah pepatah yang menyatakan bahwa tidak ada yang abadi selain kepentingan. Tapi bukankah kita sesama manusia yang hak haknya sudah dijamin sepenuhnya oleh negara? Yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini? Kenapa sikap kita yang katanya spesies unggul bisa lebih hancur daripada koloni semut yang saling bantu satu sama lain untuk membawa makanan? Atau koloni hewan herbivora di savana afrika yang luas untuk bersama sama menghindari kejaran sang predator? Kita dengan mudahnya mengorbankan seorang teman yang sudah kita kenal sejak lama , bahkan tidak bersalah atau lebih tidak bersalah daripada kita, untuk disalahkan dan dihakimi warga seluruh indonesia sebagai sampah masyarakat?

Kesempatan Kedua

Selalu ada kemungkinan dalam setiap ketidak mungkinan (viva.co.id)

Banyak orang yang selalu berharap dalam hidupnya, di dalam doanya yang khusyuk kepada Tuhan mengatakan bahwa dia sungguh menyesali kejadian yang dialaminya beberapa saat waktu lalu, atau bahkan kejadian yang sudah terjadi lama sekali. Hanya karena tergoda atas keinginan dan kesenangan sesaat. Banyak yang mencela dirinya sendiri, orang lain, atau bahkan Tuhan sebagai objek yang pantas disalahkan atas kejadian yang menimpa dirinya. Pertanyaannya sekarang adalah bila kesempatan kedua itu benar benar datang, bisakah kita tidak tergoda oleh godaan kedua, yang pastinya akan datang satu paket sebagai sebuah kesatuan yang tidak dapat dilepaskan?

Terkadang orang yang berharap pada kesempatan kedua itu pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika hal tersebut datang, bahkan sering kali menolak. Alkisah ada seorang pedagang yang kaya raya dibodohi oleh anak buahnya yang berkomplot untuk merampok hartanya, dia terus murung meratapi nasib walaupun beberapa kawan sudah mengajaknya kembali berbisnis merintis dari kecil kembali. Dia tetap menolak dan terus menyalahkan Tuhan dan orang disekelilingnya atas nasib buruk yang menimpa dirinya sampai akhir hayat.

Terkadang kenyataan memang menyakitkan dan tidak sesuai dengan harapan kita yang mungkin sangat tinggi bahkan melebihi kemampuan kita. Terkadang kita tidak mengetahui kemampuan kita dan keunggulan kita sehingga memaksa diri kita untuk mampu dan unggul dalam suatu bidang yang memang tidak mengunggulkan kita.

Terkadang bola panas yang penuh harapan dan kemungkinan itu tidak selalu kita butuhkan , karena alih alih membawa kebaikan bisa menyakiti diri kita dan menjauhkan bola dingin yang bisa kita panaskan. Terkadang kesempatan kedua tidaklah kita harapkan tetapi kita seharusnya patut bersyukur telah diberi kesempatan yang walaupun hanya sekali, dapat kita pelajari untuk menancapkan kaki di kubangan lumpur yang dalam bernama kehidupan.Karena yakinlah bahwa kesempatan tidak datang dua kali, mereka datang tiga kali, bahkan lebih! Salam sang Pemimpi!

Karena yakinlah bahwa kesempatan tidak datang dua kali, mereka datang tiga kali, bahkan lebih!

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: