Dakwah Era 2012 Tidak Harus Menggunakan Pedang

Twitter Dakwah Paus XVI (kompas.com)

Dalam dunia nyata tentu Paus telah memiliki “pengikut” lebih dari 1,2 miliar orang, namun hal ini akan berubah menjadi pengikut dalam versi terkini yaitu “followers” di twitter . “Teman-teman terkasih, saya senang berhubungan dengan kalian melalui Twitter. Terima kasih untuk tanggapan yang sangat ramah. Saya memberkati kalian semua dari hati.” Ketika tweet pertama tersebut selesai dirilis pada tanggal 12 Desember 2012 dalam delapan bahasa, akun @Pontifex langsung mendapatkan lebih dari satu juta followers, dan 11.000 tambahan dalam dua jam setelahnya. Akun tersebut akan berisi hal-hal spiritual, dan Paus akan menulis tweet kapanpun ia mau. Suatu hal yang diluar kebiasaan para pemuka agama yang lebih memilih dakwah tatap muka dibanding media sosial.

Ini merupakan gebrakan bagus bagi perkembangan agama di era modern mengingat semakin tingginya pengguna internet di dunia dan tingginya angka penduduk dunia yang tidak menganut agama ( atheis ). Warga dunia kini sudah menolak peperangan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia yang dipengaruhi oleh media yang mereka dapatkan, media sosial dan media massa. Lihatlah saat ini warga Yahudi yang dikecam habis habisan atas invasinya yang tiada henti menggempur Palestina, yang lagi lagi juga disebabkan oleh pengungkapan borok fakta di media massa dan media sosial.

Akulturasi Budaya

Kerja keras wali songo membangun peradaban islam di Jawa tanpa peperangan..

Hari ini kita sudah berada di penghujung 2012, sudah berabad abad terlewat dari jaman perang salib ataupun perang perang yang mengatasnamakan agama. Dakwah pun mulai berubah dari waktu ke waktu, pedang dan armada perang mulai diistirahatkan dan mulai digantikan oleh akulturasi budaya yang menarik masyarakat lokal. Contohnya saja wayang pada jaman wali songo dahulu. Walisongo muncul saat runtuhnya dominasi kerajaan Hindu Budha di Indonesia. Walisongo terdiri dari sembilan orang; Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga.

Pementasan wayang konon katanya telah ada di bumi Nusantara semenjak 1500 tahun yang lalu. Masyarakat Indonesia dahulu memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar.Pada mulanya sebelum Walisongo menggunakan media wayang,bentuk wayang menyerupai relief atau arca yang ada di Candi Borobudur dan Prambanan.Pementasan wayang merupakan acara yang amat digemari masyarakat.Masyarakat menonton pementasan wayang berbondong-bondong setiap kali dipentaskan.

Sebelum Walisongo menggunakan wayang sebagai media mereka,sempat terjadi perdebatan diantara mereka mengenai adanya unsur-unsur yang bertentangan dengan aqidah,doktrin keesaan tuhan dalam Islam.Selanjutnya para Wali melakukan berbagai penyesuaian agar lebih sesuai dengan ajaran Islam.Bentuk wayangpun diubah yang awalnya berbentuk menyerupai manusia menjadi bentuk yang baru.Wajahnya miring,leher dibuat memanjang,lengan memanjang sampai kaki dan bahannya terbuat dari kulit kerbau.

Dalam hal esensi yang disampaikan dalam cerita-ceritanya tentunya disisipkan unsur-unsur moral ke-Islaman. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinannya itu Bima mengajarkannya kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil, dan bertatakrama dengan sesama manusia.

Dalam sejarahnya,para Wali berperan besar dalam pengembangan pewayangan di Indonesia. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Bahkan para wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain yaitu “Mana yang Isi (Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) dan mana yang harus dicari (Wayang Golek)”.

Disamping menggunakan wayang sebagai media dakwahnya,para wali juga melakukan dakwahnya melalui berbagai bentuk akulturasi budaya lainnya contohnya melalui penciptaan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, gamelan, dan lakon islami. Setelah penduduk tertarik, mereka diajak membaca syahadat, diajari wudhu’, shalat, dan sebagainya. Sunan Kalijaga adalah salah satu Walisongo yang tekenal dengan minatnya dalam berdakwah melalui budaya dan kesenian lokal.Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, layang kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Dakwah Era Modern

Ustad Ustadzah cakep yang berdakwah di era modern..

Lain pada jaman kerajaan islam , lain pula pada jaman reformasi saat ini. Saat ini dakwah cenderung mengggunakan media massa dengan para ulama ataupun pendeta yang tidak lagi mengajarkan asas wajib haram dalam agama tapi mengajarkan penerapan konsep membangunan kehidupan dan peradaban yang berdasarkan pada ajaran agama. Lihat saja ustad ustadzah yang menghiasi layar televisi baik nasional maupun lokal , bahkan radio pun tidak kalah dalam penyiaran pengajian. Kita pasti tidak asing dengan nama Ustad Solmed , Mamah Dedeh , dan Ustad Maulana yang ditampilkan pada pagi hari.

Dakwah pun sudah jauh bergeser hingga menggunakan lagu yang menarik masyarakat untuk mendalami budaya islam. Ada Maher Zain yang sudah mengorbit internasional dengan lagunya yang berbahasa inggris, yang sempat diterjemahkan bersama Fedly Padi , banyak juga ustad ustad yang merilis album lagunya. Penyanyi konvensional yang biasa menyanyikan lagu cinta melow pun tidak kalah giat merilis lagu religius pada bulan puasa , sambil tidak lupa berganti pakaian menjadi lebih tertutup dan islamis untuk meramaikan kegiatan dakwah agama islam sembari mengais rizki di bulan puasa.

Ternyata , perbedaan keyakinan agama diantara kita tidak menjadi panghalang untuk bersama menjalin harmonisasi dalam melaksanakan pembangunan. Bahkan aktivitas relijius sepatutnya juga memiliki implikasi positif bagi tatanan sosial masyarakat bukan sekedar upaya propaganda jargon-jargon kosong semata bahkan malah berujung pada konflik atau bahkan kekerasan terhadap sesama.Walisongo dan para penyebar agama Islam pada masa lalu di Nusantara telah membuktikan bahwa ajaran Islam dapat dimasukkan kedalam nadi kehidupan orang jawa pada umumnya tanpa penolakan yang berarti, begitu pula dengan kegiatan dakwah di media sosial dan media massa oleh para ustad seperti saat ini. Akulturasi yang halus seperti wayang dan pelantunan lagu dakwah ini dapat memberikan kesan mendalam pada masyarakat lokal bahwa agama Islam membawa kebaikan bagi sesama , bukannya dengan peperangan yang akan membawa luka dan keterpaksaan sampai akhir hayat. Bhinneka Tunggal Ika!

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Dakwah Era 2012 Tidak Harus Menggunakan Pedang

  1. Bila baca cerita nie… saya terkejut gak… apa pun saya setuju dengan awak.
    .. post nih akan di share di fb.. thanks for this info.
    .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: