Sapi Lezat Milik Lutfi , atau Milik Bangsa Indonesia?

Masalah Sapi yang Tak Kunjung Surut..

Suatu kali di tahun 1964 saat Ganjang Malaysia di Istana Bogor. Saat itu pertarungan terbesar Indonesia sesungguhnya bukanlah soal negara boneka Malaysia, tapi soal ‘Politik Pasar’ yang hendak dibangun Bung Karno, Pasar yang berdaulat atas bangsa ini, Pasar yang memiliki kekuatan atas modal sendiri, saat itu politik pasar mendapatkan halangan dari kekuatan ekonomi Malaysia dan Singapura yang sudah disetting menjadi negara kapitalis yang membendung kekuatan kapital Indonesia. Bung Karno membahasakan Berdikari itu dengan gaya politik, padahal tujuannya adalah akumulasi modal untuk Republik. Bung Karno berkata :

Kemarin dulu, di Bogor saya katakan: Justru idee Berdikari ini yang membuat kaum imperialis gemetar. Jikalau, konferensi AA yang kedua bisa terjadi, karena mereka yakin lain kali, kalo konperensi AA kedua terjadi di Aljazair, dan di situ Indonesia menganjurkan BERDIKARI, BERDIKARI, BERDIKARI, kepada seluruh ra’yat Asia dan Afrika, aku berkata di Bogor,’Lonceng kematian imperialisme berbunyi.’ Sebab inti daripada imperialisme adalah membuat bangsa-bangsa enggak berdiri di atas kaki sendiri.

Prinsip – inti daripada imperialisme adalah membuat bangsa2 memerlukan barang2 bikinan imperialis, memerlukan persenjataan daripada pihak imperialis, memerlukan bantuan daripada pihak imperialis. MALAYSIA, APAKAH ENGKAU BERDIKARI??? SAMA SEKALI TIDAK! Kalau mau pertahanan tidak berhenti2,’oy minta tolong, Inggris, minta tolong, Australie, minta tolong, New Zealand. Heeeh, kalau betul2an kau anggota commonwealth, tolonglah kami. Hey Australie kalau betul2 kau anggota dariapda commonwealth, tolonglah kepada kami. Hey New Zealand, kalau betul2 kau anggota daripada commonwealth, tolonglah kepada kami! TOLONG, TOLONG, TOLONG! MANAKAH BERDIKARINYA, SAUDARA2, SAMA SEKALI TIDAK ADA!!! (Pidato Bung Karno soal Malaysia, 1964)

Pidato Bung Karno diatas menghendaki bangsa ini berdikari, berdikari itu adalah seluruh konsep integral agar bangsa ini tidak bergantung dikte apapun disegala lini, bangsa ini memiliki kekuatan sendiri sebagai penyumbang peradaban besar dunia.

Lalu kenapa kita kini tergantung dengan impor tentang hal-hal yang seharusnya tidak perlu kita impor, bayangkan dengan usaha-usaha rakyat yang sesungguhnya sudah tradisional saja dan dikenal menyejarah dalam ekonomi kerakyatan seperti garam kita masih impor. Persoalan impor dan kedaulatan ini diam-diam sudah menjadi titik didih pertarungan internal di kalangan kabinet SBY.

Bagaimana kemudian sapi saja kita tidak bisa membangun definisinya sendiri sebagai peternakan rakyat yang bisa menciptakan pasar, dimana pasar tidak hanya dibatasi ‘Pasar saat Idul Adha’ tapi pasar keseharian. Peternak kita menahan penjualan sapi-nya pada saat idul adha, saat permintaan tinggi. Tapi apa yang terjadi dengan Pasar kita, bagaimana peternak tidak menguasai pasar sapi dan malah impor sapi dengan permainan kuota menjadi bintang atas panggung ekonomi rakyat? sehingga pemain-pemain impor harus menciptakan upeti bagi kelompok yang merasa menguasai industri impor sapi ini.

Sapi bagaimanapun adalah bagian dari ekonomi rakyat, kita masih ingat di jaman dulu tentang hari pasaran, WS Rendra, penyair besar Indonesia pernah berkisah soal bagaimana siklus pasar rakyat dibuka, “Siklus itu ada yang namanya pasaran, hari-hari pasaran menciptakan pasar tertentu, seperti Pasar Wage, Pasar Pon atau Pasar Pahing, nah salah satu siklus itu ada yang hanya menjual ternak atau menjual padi. Setelah jalan Daendels dibangun, maka struktur siklus itu hancur, perdagangan terjadi amat cepat, namun sisa Pasar Sapi di wilayah-wilayah tertentu masih ada, lalu kenapa Pasar Sapi lokal menjadi hancur lebur digantikan menjadi pasar sapi impor?

Sapi Sebagai Mesin Politik

Tak ada selain Presiden Suharto yang begitu terobsesi dengan Sapi, waktu umur 5 tahun Suharto sudah menyukai sapi dan kerbau, kenangan paling awal yang ia ingat tentang kerbaunya adalah saat ia menggembala kerbau dan kerbaunya terperosok, bagi Suharto kecil kekayaannya yang paling berharga adalah sapi, disinilah ia kemudian merasa bahwa ia amat ingin beternak sapi.  Di Tapos, Suharto menciptakan dua panggung : Panggung ekonomi rakyat berbasis sapi dan Panggung Politik untuk acara menggebuk lawan-lawan politiknya, karena bila acara ancaman menggebuk ia lakukan di Istana maka itu artinya ‘keterlibatan formal negara’, dan Tapos secara tak lain adalah ungkapan ‘kekuasaan personal’. Namun ada yang menarik soal Tapos, yaitu : Pak Harto menciptakan centruum pengembangan benih sapi, pengembangan ini dilakukan dengan inseminasi buatan yang laboratoriumnya dibangun sendiri, lalu Suharto membentuk apa yang namanya ‘Kanal Kekayaan Negara Untuk Rakyat’ ‘ berupa Sapi Banpres.

Satu hal ‘politik impor sapi’ dimasa Pak Harto amat dipersulit, Pak Harto punya ambisi agar Sapi Banpres akan menstimulir kekayaan rakyat, di masa Orde Baru banyak kita lihat di pedesaaan Jawa masih ada orang yang tidur dan makan di dalam rumah, dimana di dalam rumahnya ada sapi, bagi mereka sapi adalah kekayaan rakyat dari gedoran pintunya langsung, inilah yang dilihat Suharto.

Pada tahun 1983 Suharto mencanangkan apa yang disebut impor bibit benih sapi, disini ia mulai menciptakan pengayaan sapi yang diternakkan masyarakat, ia canangkan itu di Boyolali dan Boyolali Jawa Tengah dijadikan Suharto sebagai titik nol swasembada daging sapi dan susu jangka panjang. Pada tahun 1984 digerakkan budaya minum susu sapi, yang digerakkan sendiri dengan pemerintah. Namun sayang sentral sapi di Boyolali yang dibangun Pak Harto menjadi puso alias bangkrut karena tidak adanya kesadaran strategi jangka panjang oleh pemerintah.

Daulat Daging Sapi : Antara Dahlan Iskan dan Menteri Pertanian

Yang menarik di jaman SBY ini adalah pertarungan antara Menteri SBY yaitu : Menteri BUMN Dahlan Iskan dengan Menteri Pertanian Suswono. Disini Suswono yang menguasai jaringan Departemen Pertanian memiliki koridor dengan Presiden PKS yang saat ini ditangkap KPK dan dijadikan tersangka karena menjadi bohir atas impor Sapi Luthfi Hasan Ishaaq. Ditengarai Luthfi adalah orang yang menyuruh A. Fathanah yang digelandang KPK di Hotel Le Meridien sedang berasik masyuk dengan perempuan dan ketika ditangkap berdua telanjang, kehancuran moralitas baik tanggung jawab moral pada Agama dan tanggung jawab moral kepada rakyat hancur sudah, gara-gara soal mainan kuota impor.

Pihak Menteri Pertanian membuka keras Keran Impor sementara dipihak lain Dahlan Iskan berkecipak keringat menciptakan kemandirian sapi lewat BUMN yang hampir kolaps bernama Berdikari United Livestock (BULI), Dahlan menggebrak meja soal kemandirian daging karena ia merasa keran impor bukan saja bikin susah peternak tapi juga secara jangka panjang menghancurkan pangsa pasar kita sebagai produsen peternakan sapi.

Kita adalah negara terbesar di Asia Tenggara yang memiliki potensi lahan luar biasa luas, PT BULI sendiri memiliki lahan 6000 hektar dan ini merupakan ranch terbesar di Asia Tenggara, Ranch ini akan jadi centruum dari ekonomi rakyat yang mengelilinginya.

Awalnya PT BULI sebagai BUMN nyaris saja tersungkur karena gagal manajemen dan pengolahan yang tidak fokus, BUMN mengurusi perusahaan asuransi dan mebel, ketika Dahlan masuk jadi Menteri BUMN dia berteriak untuk BULI ini agar hanya ngurusin “sapi…sapi dan sapi…!”

Lalu Dahlan bertindak cepat, ia membereskan internal perusahaan BUMN ini dan menunjuk seorang Perempuan cerdas untuk mengelola langsung Ranch, nama orang ini adalah Ir. Ria Kusumaningrum.  Awalnya manajemen PT BULI berantakan, namun kemudian perlahan manajemen PT BULI terkonsep dengan teratur, sistem yang diciptakan sendiri tidak lagi menerapkan gaya Australia yang melepaskan saja sapi-sapi di ranch, tapi dengan membuat kombong (kandang tanpa atas), pembuatan kombong ini jelas akan menjadikan jumlah sapi menjadi massif karena tidak membutuhkan lahan yang banyak, secara teori lahan 6.000 hektar itu bisa memuat hanya 6.000 sapi tapi kemudian bila menggunakan sistem kombong ditargetkan bisa menciptakan 50.000 sapi. Menurut catatan Kementerian Pertanian kebutuhan sapi potong, sapi perah dan kerbau sebesar 3 jutaan ekor.  Apakah BUMN ini bisa memenuhi pasokan, jawabannya bisa saja asal di setiap wilayah yang masih luas lahannya tercipta dan di copy paste sistem peternakan terpadu yang dipandu BUMN dimana disekitarnya ada peternakan rakyat, selain itu Pasar atas Sapi dan ternak jangan diganggu oleh keran impor, strategi pengembangan ini harus jadi tanggung jawab, sinyal adanya permainan kuota impor itu menandakan ada yang tidak beres soal aliran distribusi kekayaan, dengan mengurangi impor permainan kuota bisa dihilangkan dan rakyat tidak lagi dikerjain harga daging di pasaran. Dahlan sendirian di kabinet SBY yang bertempur soal kemandirian daging sapi sementara pihak Kementerian Pertanian sama sekali acuh terhadap langkah Dahlan Iskan. Mustinya hal tersebut bisa menjadi titik awal koordinasi karena tugas Kementerian Pertanian adalah menciptakan iklim yang kuat agar kerja-kerja rakyat jangan diganggu dengan kebijakan yang menggantungkan diri pada asing.

Nah untuk menjawab ini sebenarnya kita kembali pada awal tulisan ini ‘Politik Pasar’ adakah goodwill dari Pemerintahan SBY terhadap politik pasar tapi yang lebih terintegrasi, bisakah PT BULI dijadikan pemain dunia atas ekspor sapi dan memenuhi kebutuhan nasional, saya rasa jawabannya kita harus jujur, mau berpihak kemana, berpihak pada Rakyat atau masih seneng makan duit patgulipat kuota?

Saya rasa ke depan kita masih punya harapan agar bangsa ini menjadi pemain eksportir daging terbesar di dunia bukannya malah jadi pengimpor sapi dan harga sapi semakin mahal. ( http://bit.ly/TsUHbb )

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: