Sinergi antara Bahasa dan Peradaban Manusia

Bahasa cerminan kemajuan peradaban..

Saya tergelitik menulis artikel tentang kebahasaan setelah pembahasan di sekolah saat perkenalan tadi pagi, saya saat ditanya pelajaran apa yang paling disukai menjawab “Bahasa Indonesia”. Tentu saja itu awalnya hanya modus seorang Judi karena tadi perkenalan dilakukan saat pelajaran Bahasa Indonesia, tapi setelah berbicara panjang lebar, yang kata teman teman itu “bullshit” malah merasuk ke hati saya. Jadi hari ini saya berhasil mendapatkan hati guru bahasa indonesia, dan menemukan hati saya yang tergerak untuk terus belajar..

Ibn Khaldun dalam sebuah magnum opus-nya “Muqaddimah” mengatakan bahwa tanda wujudnya peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optik, kedokteran dsb. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya. Karena itu suatu peradaban harus dimulai dari suatu “komunitas kecil” dan ketika komunitas itu membesar maka akan lahir besar. Komunitas itu biasanya muncul di perkotaan atau bahkan membentuk suatu kota. Dari kota itulah akan terbentuk masyarakat yang memiliki berbagai kegiatan kehidupan yang daripadanya timbul suatu sistem kemasyarakat dan akhirnya lahirlah suatu Negara. Tanda-tanda lahir dan hidupnya suatu peradaban bagi Ibn Khaldun di antaranya adalah berkembanganya teknologi, (tekstil, pangan, dan papan / arsitektur), kegiatan eknomi, tumbuhnya praktek kedokteran, kesenian (kaligrafi, musik, dsb). Di balik tanda-tanda lahirnya suatu peradaban itu terdapat komunitas yang aktif dan kreatif menghasilkan ilmu pengetahuan.

Namun di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat masih terdapat faktor lain yaitu bahasa. Karena bahasa merupakan media untuk menyampaikan sebuah gagasan. Sebaik apapun pemikiran seseorang, tanpa bahasa adalah suatu ke-nihil-an. Sinergi antara bahasa dan pemikiran manusia dapat mengantarkan manusia untuk tidak saja menyempurnakan penampilan ragawi mereka, tetapi juga mengatasi berbagai keterbatasan ragawi mereka sehingga memberi jalan bagi lahirnya fenomena khas manusia berupa kebudayaan, dan secara lebih khusus peradaban. Itulah sebabnya Wittgenstein mengatakan “Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt,” yang jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia akan berbunyi seperti ini, “Batas Bahasaku adalah batas duniaku.” Dengan kata lain, Kalau ketidak-mampuan berbahasa adalah batas dunia binatang, maka kekurang-cakapan berbahasa juga membatasi dunia manusia. Pun bila dikehendaki memperluas dunia manusia, maka salah satu piranti utamanya adalah kecakapan berbahasa.

Sejalan dengan Wittgenstein, Ernest Cassirer juga memiliki suatu kesimpulan  yang berbeda dari kecenderungan pemikiran awam. Kalau kebanyakan dari kita meyakini bahwa pembeda utama manusia dari binatang adalah kemampuan berpikirnya, maka Cassirer menegaskan bahwa manusia menjadi begitu istimewa karena bahasa. Demikian juga Erving Goffman mengatakan, ”… human beings are symbol-using creatures”. Ungkapan ini pada dasarnya sama dan sebangun dengan penyebutan Cassirer bahwa manusia adalah animal symbolicum.

Perlu ditegaskan disini bahwa simbol merupakan atom-atom penyusun sebuah bahasa. Satuan terkecil ini dapat berupa bunyi ataupun gerakan. Kita ambil contoh misalnya seorang bayi yang baru lahir dan kemudian menangis kencang. Hal ini merupakan sebuah simbol yang pertama yang dihasilkan insan manusia ketika berhasil menatap dunia. Bunyi tangisan tersebut dapat bermakna beragam, apakah si bayi merasa kesakitan, merasa kedinginan atau kepanasan terhadap perubahan kondisi, merasa lapar, merasa tidak nyaman, dan berbagai asumsi lainnya.

Berbicara mengenai simbol, sering kali terkait akan bidang pengetahuan lain, seperti Matematika ataupun Kesenian. Matematika yang penuh dengan angka-angka dan simbol-simbol penghubungnya, serta Seni yang dengan keindahan suguhannya mampu menghipnotis penikmatnya. Tapi pernahkah terpikir bahwa cabang ilmu tersebut juga merupakan sebuah bahasa? Ya, bahasa! Matematika dengan angka-angkanya merupakan sebuah sistem bahasa yang jika disusun sedemikian rupa dengan bantuan simbol lainnya akan menghasilkan sebuah makna kebahasaan, bahasa matematika tentunya. sebagai contoh misalnya, 1 + 1 = 2. angka dua dihasilkan atas penggabungan simbol-simbol sebelumnya, yakni angka 1 yang dihubungkan dengan simbol (+) serta diikuti angka 1 dan menghasilkan persamaan yang dilambangkan dengan =. Sebuah proses induktif yang berhasil menciptakan sebuah simpulan.

Kembali berbicara masalah bahasa, pernahkah terpikir apa yang akan terjadi jika manusia tidak pernah menemukan bahasa seperti yang kita gunakan saat ini? Pada dasarnya, sebutan manusia sebagai makhluk pengguna simbol memiliki cakupan lebih luas dibanding sebutan manusia sebagai makhluk berpikir (homo sapiens), karena hanya dan hanya bila menggunakan bahasa maka manusia bisa berpikir dengan runtut, teratur, canggih, dan abstrak. Lebih lanjut, semua prestasi kolektif manusia, seperti khasanah pengetahuan keilmuan, kemajuan peradaban, serta keadiluhuran budaya, hampir pasti tidak bisa diwujudkan tanpa peran bahasa sebagai prasyarat utama.

Tanpa bahasa, maka tiada pula kemampuan manusia untuk meneruskan nilai-nilai, pola-pola perilaku, dan benda-benda budaya dari satu angkatan kepada angkatan penerusnya. Lebih dari itu, tanpa bahasa boleh jadi juga akan jauh lebih sulit membayangkan terjadinya pengayaan budaya melalui pertukaran antar kelompok masyarakat. Masyarakat mesir dikenal maju karena bisa menulis dengan simbol simbol diatas piramid, Bangsa arab pada masa keemasannya bisa menguasai dunia karena peradabannya yang sangat maju, yang tentu saja ditopang oleh pemahaman bahasa yang tinggi. Serta “keberhasilan” bangsa eropa yang menjajah bangsa negara ketiga ( Far East ) dan meninggalkan kebudayaan bahasanya, kakek kita banyak yang bisa bahasa belanda, dan banyak negara yang menggunakan bahasa para penjajahnya sebagai bahasa nasional.

Orang yang cerdas biasanya mampu berbicara beberapa bahasa, sebut saja idola saya Arsene Wenger. Pelatih kebangsaan Prancis yang telah menukangi Arsenal 17 tahun ini dapat berbicara bahasa Inggris, Jerman, Spanyol, Itali, bahkan Jepang dengan sangat lancar. Tentu saja disamping bahasa prancis yang dia gunakan sejak kecil. Tak salah lagi pelatih yang genius meracik taktik dan mencari bakat ini disebut “Le Proffesour”.

Kesimpulannya pada tulisan ini bukanlah tentang bahasa yang dapat mengubah peradaban dan pemikiran manusia, karena itu dapat disimpulkan sendiri oleh pembaca yang pasti sudah cerdas. Tetapi bagaimana kita mengubah suatu “bullshit” tentang saya yang mencintai bahasa, yang saya ucapkan di depan guru bahasa saya, menjadi sesuatu yang “make sense” yang pasti membuat anda pembaca angguk angguk saat membaca artikel ini. Ciao!

The limits of  our language are the limits of  our world.❞ – Nelson Mandela

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: