Secuplik LCGC – Maju Bersaing, Jangan Diam Menggerutu!

Kali ini saya tidak akan bahas dengan topik vickynisasi yang seperti bola panas yang sedang senang diraba raba masyarakat luas, yang kalau dipost mungkin sangat menjanjikan visitornya. Tapi saya kira orang intelek satu ini sudah dikuliti bangsa kita yang memang penggosip ulung dari segala bidang, sehingga tidak arif kalau saya juga mengungkit cerita yang sama, dengan alur yang sama membahas bahasa dan parodinya, serta bagaimana membuat artis cakep layaknya Saskia Gothic jatuh hati, serta saran supaya tidak sok intelek yang sama dengan ribuan artikel lain di internet.😀

Kali ini saya akan membahas tentang LCGC, mungkin ada yang kemarin melihat siaran rilis Daihatsu Ayla yang rilis bersamaan dengan tayangnya dengan wayang OVJ dan lantutan lagu yang indah dari Afgan, dan iklan yang dinyanyikan juga olehnya dengan frekuensi pengulangan yang kurang ramah bagi penonton. Tapi apakah sebenarnya LCGC itu?

Peraturan pemerintah (PP) mengenai program mobil murah dan ramah lingkungan (LCGC) dan kendaraan emisi karbon rendah (LCE), diterbitkan pada (5/6/2013). Acuan hukumnya tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan Barang Mewah.

Potongan pasal 3 PP no 41 tahun 2013, saya kutip di bawah ini :

Pasal 3

(1) Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang termasuk dalam kelompok kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (8), dihitung dengan Dasar Pengenaan Pajak sebesar:

a. 75% (tujuh puluh lima persen) dari Harga Jual untuk kendaraan bermotor yang menggunakan teknologi advance diesel/petrol engine, dual petrol gas engine (converter kit CNG/LGV), biofuel engine, hybrid engine, CNG/LGV dedicated engine, dengan konsumsi bahan bakar minyak mulai dari 20 kilometer per liter sampai dengan 28 kilometer per liter atau bahan bakar lain yang setara dengan itu;

b. 50% (lima puluh persen) dari Harga Jual untuk kendaraan bermotor yang menggunakan teknologi advance diesel/petrol engine, biofuel engine, hybrid engine, CNG/LGV dedicated engine, dengan konsumsi bahan bakar minyak lebih dari 28 kilometer per liter atau bahan bakar lain yang setara dengan itu; dan

c. 0% (nol persen) dari Harga Jual untuk kendaraan bermotor yang termasuk program mobil hemat energi dan harga terjangkau, selain sedan atau station wagon, dengan persyaratan sebagai berikut:

1. motor bakar cetus api dengan kapasitas isi silinder sampai dengan 1.200 cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit 20 kilometer per liter atau bahan bakar lain yang setara dengan itu; atau

2. motor nyala kompresi (diesel atau semi diesel) dengan kapasitas isi silinder sampai dengan 1.500 cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit 20 kilometer per liter atau bahan bakar lain yang setara dengan itu.

Aturan emisi CO2 untuk mobil baru di dataran Uni Eropa ( Euro 2 ) sampai sekarang ini masih berlaku 142 gram per km, yang kurang lebih setara dengan 6 liter per 100 km, atau setara dengan 1 liter untuk 16,7 km. Mulai tahun 2020 komisi lingkungan Uni Eropa bahkan baru saja menyepakati untuk memperketat aturan emisi CO2nya dalam aturan Euro 3 menjadi 95 gram per km (kurang lebih setara dengan 4 liter per 100 km atau 1 liter untuk kurang lebih 24 km), tapi masih belum terputuskan karena harus disetujui oleh wakil dari 27 negara Uni Eropa. Kesepakatan aturan baru ini masih terganjal oleh pemerintah Jerman, yang tentu saja mewakili produsen mobil-mobil mewah seperti Mercedes dan BMW.

Jadi dalam kasus ini, bila Toyota di Indonesia menyambut PP no 41 tahun 2013, tentu merupakan reaksi positif, karena tidak semua produsen mobil dengan sukarela menyambut batasan konsumsi BBM, yang artinya juga pembatasan emisi CO2 ini. Bagi produsen mobil aturan semakin ketat, artinya inovasi dan teknologi terbaru harus dicari dan diterapkan.

Untuk menunjang keberhasilan PP no 41 tahun 2013 ini, pemerintah RI perlu pula mempunyai perhitungan emisi CO2 kendaraan yang baku, bukan hasil rekayasa langsung dari produsen mobil untuk menghindari trik nakal para produsen mobil. Dan munculnya PP no 41 tahun 2013 ini dipicu oleh target lingkungan Pemerintah RI untuk menekan emisi CO2 di jalan mewujudkan Perjanjian Kyoto tentang penurunan emisi yang banyak negara belum menyatakan kesanggupannya.

Jokowi menolak, takut macet

Sikap apriori Gubernur DKI Jokowi terhadap kehadiran mobil murah yang difasilitasi oleh pemerintah pusat, menjadi kontroversi. Jokowi yang pernah jadi brand ambassador mobil murah Esemka berpolemik dengan Menteri Perindustrian MS Hidayat terkait masalah potensi kemacetan Jakarta dengan adanya program mobil murah ini.

Sebenarnya rakyat negeri ini sejak lama mempertanyakan mahalnya harga mobil di dalam negeri. Mereka mendambakan tersedianya mobil murah sebagai kendaraan alternatif yang lebih memadai, khususnya bagi keluarga kecil pemakai sepeda motor yang sudah punya dua-tiga anak. Mobil dibanding sepeda motor, relatif lebih baik dari segi keselamatan maupun kesehatan.

Di pihak lain, masyarakat berpenghasilan sedang yang selama ini hanya mampu membeli mobil bekas, tentu mendambakan sebuah mobil baru dengan harga yang hampir sama, sesuai budget mereka. Mobil baru dengan teknologi yang hemat BBM tentu lebih efisien dan juga rendah biaya perawatannya. Mobil bekas berusia 5 tahun ke atas, biaya perawatannya jelas menguras kantong.

Jika yang terjadi hanya konversi, sebagian pemilik motor beralih ke mobil kecil dan konsumen yang mengincar mobil bekas mengalihkan uangnya untuk membeli mobil baru, tentunya jumlah kendaraan tidak akan bertambah signifikan.

Adapun kemungkinan lain, bertambahnya jumlah mobil karena setiap anggota keluarga membelinya mumpung harga murah, tentu bisa diminimalisir dengan pajak progresif yang diperbesar, serta memperluas dan memperketat aturan 3 in 1, tarif parkir, dan perluasan jangkauan mrt , pembaruan armada, dan intensifikasi perawatan transportasi publik

Bila transportasi publik yang tersedia memiliki cakupan wilayah yang luas dengan harga murah karena disubsidi oleh negara atau menggunakan teknologi murah terbaru, dengan fasilitas yang nyaman tentu rakyat tidak akan berpikir dua kali untuk menggadaikan SK atau buru buru mengambil kredit motor, apalagi mobil yang cicilannya mencekik kita secara kontinyu dalam masa yang cukup panjang.

Mobil murah dan baru jelas sebuah kebutuhan. Mahalnya harga mobil terbukti tidak mengurangi jumlah kendaraan karena banyak orang menjual dan membeli mobil tua yang malah boros BBM. Sebagian lagi membeli sepeda motor yang juga berkontribusi bagi terjadinya kemacetan.

Bicara kemacetan Jakarta, tentu kurang relevan jika solusinya adalah seluruh rakyat Indonesia dihalangi untuk membeli mobil murah. Bagaimanapun, Indonesia bukan hanya Jakarta. Apalagi Jokowi salah satu pemrakarsa Mobil Esemka yang saat ini tidak jelas arahnya, walaupun dengan embel embel ciptaan anak bangsa tentu saja mobil esemka jalan di jalan raya bukan di sungai.😀

Mematikan Produk Lokal

Ini juga salah satu alasan yang kurang bisa diterima akal sehat era global yang selalu terbuka atas persaingan dan pengembangan Iptek. Mobil lokal disebut sebut tidak dapat bersaing dengan adanya mobil murah. Pertanyaannya adalah kenapa mobil yang sama sama diproduksi di Indonesia, yang satu dimiliki perusahaan luar negeri yang satu pribumi tidak dapat maju?

Bisa jadi ini sebuah alibi saja bagi produsen mobil lokal yang ingin mendapatkan untung sebesar besarnya tanpa riset dan produksi yang baik, seperti yang kita ketahui sebelumnya mobil mobil seperti tawon, atau esemka yang dulu digadang gadang sebagai mobil nasional pun tak jelas arahnya. Seharusnya dengan banyaknya ragam mobil yang berkeliaran di Indonesia ini kita dapat belajar dan berkreasi ke arah yang lebih baik.

Bisa dengan cara tukar teknologi seperti anak anak lulusan SMK yang saat ini bekerja membuat dan merakit komponen mobil dan atau mobil di penjuru Indonesia dapat menciptakan industri otomotif sendiri. Sesuai dengan regulasi yang diterapkan pemerintah dalam PP yang memuat LCGC tadi sehingga dapat menciptakan mobil murah.

Kreasi bangsa Indonesia pun tidak bisa dianggap remeh. Mobil listrik yang digadang Dahlan Iskan contohnya. Disaat kita memikirkan kecemasan: Mobilnya nyetrum nggak? Kalo banjir mati nggak? Dahlan Iskan sudah memikirkan apa yang akan terjadi kalo cadangan minyak kita habis? Padahal menurut beberapa ahli, cadangan minyak kita akan habis 11 tahun lagi! Berapa banyak minyak yang harus kita impor? Berapa banyak subsidi yang harus ditanggung negara akibat konsumsi BBM yang terus menggila. Dengan mobil listrik, Dahlan mungkin sudah membayangkan betapa banyak manfaat yang bisa dilakukan kalau negara sudah tak perlu mensubsidi BBM. 300 triliun per tahun subsidi itu bisa dialihkan untuk membangun jembatan Selat Sunda, tahun depannya lagi bikin jembatan Selat Bali. Tahun depannya lagi bisa membangun jaringan kereta api di Sumatera dan Kalimantan.

Disaat kita memikirkan wong gak ada mobil listrik aja listrik udah byar pet, gimana nanti kalo ada mobil listrik, Dahlan bekas dirut PLN itu mengungkapkan fakta menarik. Mobil litrik itu dirancang untuk di charge pada malam hari memanfaatkan listrik yang biasanya terbuang percuma. Terbuang? Iya, karena ternyata pembangkit listrik itu siang malam menghasilkan listrik dengan watt yang sama! Selama ini listrik dini hari (setelah jam 9 malam sampai subuh) itu banyak yang mubazir ditinggal tidur. Ini yang akan dimanfaatkan untuk menchage mobil listrik. PLN menurut Dahlan nantinya akan mengenakan tarif khusus yang murah untuk listrik dini hari ini.

Disaat kita memikirkan mana bisa sih kita bikin mobil dan bersaing dengan Jepang, Dahlan memakai logika lain. Untuk mobil bensin kita sudah tertinggal puluhan tahun, percuma kita membuat mobil bensin. Tapi untuk mobil listrik, negara lain juga baru mulai serius melakukan riset. Dan belum ada mobil listrik yang benar-benar sukses. Kita punya peluang lebih besar untuk bersaing dan memenangkan perlombaan maraton ini.

Disaat kita pesimis dengan keahlian putra-putra bangsa memproduksi mobil listrik, Dahlan sudah berhasil membujuk Ricky Elson. Putra Padang pemilik puluhan paten motor listrik di Jepang. Ricky dengan karir mapan di Jepang, bersedia kembali setelah mendapatkan jaminan dukungan penuh dari Dahlan. Gaji menteri BUMN-pun diserahkan semua untuk menggaji Ricky, meskipun nilainya belum bisa menyamai gaji Ricky di Jepang. Selain Ricky masih ada beberapa tenaga ahli lain dalam tim Putra Petir yang bekarja keras mewujudkan mimpi dan harga diri bangsa. Keluar dari topik sejenak tentang pengiriman kontingen tim olimpiade ataupun pengiriman kejuaraan robotik pun indonesia mendapatkan hasil yang tidak kalah memuaskan dengan sering keluar sebagai juara umum. Ispro tahun lalu contohnya Indonesia memboyong 15 medali.

Disaat banyak yang sinis dengan mengatakan: Tucuxi saja ancur, apa gak kapok? Dahlan justru memberi nasehat: Jadi pemimpin itu harus kuat dan jangan cengeng. Kalau cengeng kasihan rakyatnya. Kita bisa membayangkan bagaimana malunya Dahlan saat mobil Ahmadi mogok di jalan karena kehabisan baterai. Betapa malu dan hancurnya Dahlan saat Tucuxi menabrak tebing. Tapi itu tidak membuatnya menyerah. Mobil listrik generasi kedua siap dipakai saat APEC nanti. Dahlan mungkin berpikir, malu yang itu masih bisa ditanggungnya sendiri. Ada malu lain yang lebih besar dan harus dihapuskan. Malu sebagai bangsa yang besar, dengan kue pasar otomotif yang masuk 3 besar dunia tapi tidak kebagian semolekul-pun kue itu. Malah negara-negara lain yang berpesta pora menghabiskan kue itu. Kita cuma jadi penonton. Bengong. Padahal kita yang mendanai pesta itu.

Disaat kita menyalahkan: Ah, ada mobil listrik bikin macet aja! Kita lupa bahwa ada atau tidak ada mobil listrik, jalanan tetap macet. 7.141.586 motor terjual di Indonesia tahun lalu (kompas.com). 1.450 mobil terjual setiap hari! Sialnya duitnya mengalir ke negara lain. Sialnya udara polusinya kita yang menghirup. Dahlan berpikir jauh ke depan. Polusi ini harus dihentikan. Kesehatan anak cucu harus dijaga dari sekarang. Jalan satu-satunya adalah mobil listrik yang tanpa polusi.

Disaat kita terlena enaknya menjadi konsumen mobil, Dahlan gemas memikirkan harga diri bangsa. Apa mau 30 tahun lagi kita tetap menjadi negara konsumen persis seperti yang terjadi sekarang? Apa kita mau terjatuh ke lubang yang sama 2 kali?

Disaat kita memikirkan entar kalo baterainya habis mau dicharge dimana? Dahlan sudah memerintahkan Pertamina dan PLN untuk membuat prototipe Stasiun Pengisian Bahan Bakar Listrik (SPBL). PT Pertamina berencana menambah stasiun pengisian mobil listrik (electric vehicle charging station) di beberapa SPBU. Sedangkan PLN membangun SPBU Listrik. Kita juga lupa bahwa mobil-mobil listrik ini bisa dicharge di mana saja.

Disaat kita memikirkan: Ah, paling komponennya impor? Dahlan sudah mendorong Nipress, sebuah pabrik baterai di Bekasi untuk memproduksi baterai litium khusus mobil dan motor listrik. Pertengahan tahun ini sudah akan diproduksi massal. Dahlan juga pada beberapa kesempatan menantang ilmuwan dan mahasiswa untuk menemukan baterai jenis baru yang cocok untuk mobil listrik.

Disaat kita memikirkan kecemasan dan hambatan, Dahlan bekerja dengan tim putra petir dan BUMN-BUMN terkait memproduksi harapan dan menemukan solusi. Disaat kita pesimis, mereka optimis.

Pesimisme itu menyebar begitu cepat, padahal pesimisme itu setengah kegagalan. Sedangkan optimisme itu setengah keberhasilan. Karena itu pesismisme harus di lawan dengan optimisme. Sebab kalau pesimisme menang, maka kegagalan kita sebagai bangsa akan ada di depan mata. Begitu pesan Dahlan berulang-ulang pada berbagai forum. Dahlan sedang berusaha keras menyebar virus optimisme di antara rakyat seperti kita yang dikuasai pesimisme dan apatisme.

Kita perlu lebih banyak lagi pemimpin seperti Dahlan. Bukan orang yang takut perubahan atas pengembangan teknologi dan persaingan usaha yang sehat seperti pembicara tidak jelas yang menyatakan hal tersebut asal dasar nasionalisme. Indonesia pun sempat memimpin dalam teknologi kedirgantaraan yang dahulu dinahkodai BJ. Habibie sebelum akhirnya ditutup krisis yang dimotori IMF. Yang akhirnya menyumbangkan teknologi yang harusnya menjadi milik bangsa indonesia menyebar ke seluruh dunia menjadi pegawai pegawai kaki tangan kapitalis. Mari berubah!

Change will not come if we wait for some other person or some other time. We are the ones we’ve been waiting for. We are the change that we seek.
– Barack Obama

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: