Bangsa Kita Bukan Miskin Harta, tapi Miskin Kebersamaan

Essai ini telah diterbitkan terlebih dahulu dan dikirimkan kepada Bapermades Prov Jateng dan menjadi Juara ke-2 Lomba Menulis Opini Gotong Royong Tk, Prov Jateng dalam rangka peringatan Hari Jadi Prov. Jateng ke 64 : SUMBER

Bangsa Kita Bukan Miskin Harta, tapi Miskin Kebersamaan
Opini tentang Pengentasan Kemiskinan dan Perwujudan Kesejahteraan lewat Optimalisasi Gotong Royong
Oleh : ILHAM DARY ATHALLAH – SMAN 1 PATI

HOLOPIS KUNTUL BARIS!

Satu dari delapan ( 12.4%) warga Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, ini adalah data yang Kemenkokesra pada penghujung tahun 2013. Hal ini juga didukung oleh inflasi atas daya beli mata uang kita sebesar 7% tahun lalu, serta devaluasi mata uang kita terhadap valas menjadi sekitar 12.000/USD pada tahun 2014 kini berdasarkan asumsi APBN 2014. Masalah yang menumpuk tersebut menjadikan rakyat Indonesia semakin tertekan dalam hal pemenuhan kebutuhan. Banyak yang menyebutkan bahwa bangsa kita gagal dalam hal kesejahteraan rakyat, dan menunjuk pemerintah sebagai kambing hitam atas kegagalan pemerintah mewujudkan cita cita bangsa yaitu memajukan kesejahteraan umum. Padahal kita, bersama dengan pemerintah, telah bersama-sama membangun sistem yang salah tentang definisi kemiskinan dan kesejahteraan secara hierarki dan substantif yang pada akhirnya berujung pada perwujudan data statistika tersebut menjadi beban bagi seluruh kesatuan bangsa.

Kemiskinan banyak disalahpersepsikan menjadi keadaan seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, padahal, menurut teori kemiskinan sosial demokrat yang dikutip dari Wikipedia, kemiskinan adalah keadaan saat kebutuhan dasar seseorang tidak dapat dipenuhi oleh lingkungan seseorang tersebut. Yang berarti tidak bisa dipenuhi oleh lingkungan sosial bermasyarakat, yang pemerintah dan masyarakatnya sama-sama bersikap individualistis sangat tinggi menuntut setiap perseorangan melakukan dan memenuhi segala kebutuhannya sendiri. Padahal seharusnya, individualistis yang menjadi penghalang untuk kemajuan bangsa Indonesia bisa dihilangkan apabila kita berkehendak. Dan dengan pembahasan definisi kemiskinan inilah kita seharusnya bisa memahami, bahwa revolusi mental atas sikap individualistislah yang dibutuhkan oleh bangsa ini untuk mewujudkan kesejahteraan, yang berarti keadaan saat kebutuhan dasar seseorang dipenuhi. Di sinilah mengapa gotong royong begitu didorongkan oleh pendiri bangsa kita sebagai solusi utama dalam mengarungi masalah dalam mengisi kemerdekaan kita yang semakin menjauh dari asas gotong-royong, asas yang mementingkan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, asas yang membuat semua orang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, dan asas yang membuat semuanya akan membantu sama lain tanpa meminta balasan apapun, yang pada akhirnya akan memenuhi segala kebutuhan masing masing individu dan pada akhirnya mewujudkan makna kesejahteraan yang hakiki, bukan hanya tingginya angka pertumbuhan ekonomi bangsa kita tetapi semakin tinggi pula kesenjangan sosial antar yang kaya dan yang miskin. Tetapi terwujudnya kesejahteraan umum bagi seluruh warga Indonesia tanpa terkecuali.

Gotong-royong (communal work) secara literatur dalam bahasa jawa berarti membawa bersama, yang berarti melakukan pekerjaan bersama-sama, saling menolong, bantu membantu, untuk kemudian menikmati hasil pekerjaan itu bersama-sama pula. Ada esensi besar dalam gotong-royong yang kini mulai terkikis oleh sikap individualistis, makna luar biasa dari unsur gotong-royong saat kita dapat berusaha bersama menurut kemampuan masing-masing, berlandaskan keikhlasan dan sukarela, dan bermanfaat bagi kepentingan bersama. Pada rapat BPUPKI, Soekarno mengusulkan dasar Negara berupa Philosofische grondslag, opsi itu adalah 5 sila yang kita kenal sekarang, dan kemudian bisa diperas menjadi 3 sila, dan bisa diperas menjadi 1 sila (eka sila). Eka sila itulah gotong-royong.

Mengutip pidato dari Bung Karno saat pidato BPUPKI pada 1 Juni 1945 tentang usulan dasar negara bahwa kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya, semua buat semua. Gotong-royong adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari kekeluargaan. Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama.

Sayang tujuan mulia dari gotong royong mulai terkikis dari waktu ke waktu oleh sistem kerja upah, yang diyakini pertama kali diterapkan di Indonesia pada masa kolonialisme Belanda dalam kelanjutan proyek Anyer-Panarukan, dan dari waktu ke waktu. Paham kapitalisme yang menumpang liberalisme tanpa batas, masuk pelan-pelan ke segala sendi dan urat nadi bangsa ini, yang pada akhirnya membuat kesejahteraan terukur secara kuantitatif jumlah uang, menebar kekacauan atas manusia yang selalu merasa haus akan uang, menuntut kenaikan upah minimum yang pada akhirnya akan menaikkan harga barang, yang pada akhirnya akan membuat pekerja menuntut lagi kenaikan upah, dan begitu lagi seterusnya. Demonstrasi dan mogok kerja dimana-mana, menunjukkan bahwa menaikkan upah bukanlah solusi untuk mewujudkan kesejahteraan, bahkan bisa jadi menambah kekacauan karena membuat individu individu bangsa kita menjadi semakin rakus saja.

Sistem kerja upah inipun tidak lepas dari pemujaan kita dan pemerintah terhadap pemilik modal, yang sangat jauh dari harapan pendiri bangsa yaitu perwujudan ekonomi kerakyatan berasaskan gotong royong Kita melihat bagaimana bangganya pemimpin kita melihat peningkatan arus penanaman modal asing, betapa bangganya pemimpin kita membiarkan segala sumber daya kita, baik manusia maupun alam dikuasai oleh asing dan swasta, BUMN kita diprivatisasi dengan beribu alasan, dan betapa bangganya kita apabila salah satu keluarga kita mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan ternama, apalagi perusahaan internasional, dengan gaji delapan digit per bulan. Inilah bukti pemujaan kita terhadap sisem yang dibawa para penjajah.

Kita juga tidak bisa lupakan betapa banyaknya kasus kasus suap dan gratifikasi demi imbalan dari pihak swasta yang sebenarnya tidak seberapa dibanding pembangunan kesejahteraan rakyat yang sebenarnya jauh lebih besar manfaatnya. Kita masih ingat saat seorang pegawai negeri sipil yang bergaji cukup menerima suap untuk memanipulasi pajak perusahaan, kita juga tidak bisa menutup diri betapa banyak suap dan gratifikasi diberikan untuk melancarkan kepentingan kontraktor/perusahaan untuk memenangkan tender proyek tertentu, seperti kasus perusahaan milik Nazarudin dalam wisma atlit Hambalang, bahkan suap untuk pengadaan Al Quran yang diberikan oleh beberapa perusahaan percetakan yang sempat menggemparkan jagat media massa, karena ternyata, kementrian yang seharusnya mengurus tentang agama, justru melakukan pelanggaran pada agama itu sendiri, bahkan kitab suci berupa Al Qur’an dan ibadah suci berupa Haji tidak luput dari lirikan sang tikus berdasi. Hal inilah yang menunjukkan bahwa ketamakan dan keserakahan yang muncul akibat mengakarnya sistem kapitalisme dan kerja upah yang berlebihan, sistem yang membentuk kita memuja pemilik modal, yang harus diperbaiki segera apabila bangsa ini ingin berbicara lebih banyak untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.

Revolusi mental dalam gotong royong antara lain :  mengubah sikap ketamakan kita menjadi sikap dermawan, sikap individualis materialistis menjadi sikap sosialis yang lebih mementingkan kebersamaan dan kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi. Dan sikap kerja sendiri harus diubah menjadi kerja bersama, yaitu kerja gotong royong. Kita bisa memangkas berbagai biaya yang seharusnya tidak diperlukan,  misalnya kredit perumahan yang bunganya mencekik, apabila kita saling menolong mengulurkan tangan bagi setiap warga di lingkungan kita yang akan membangun rumah. Dalam skala mikro lainnya kita bisa melakukan efisiensi dengan saling memberi tumpangan kendaraan tetangga kita yang tujuannya searah, dibanding membawa kendaraan masing-masing yang hanya akan membawa kemacetan. Daripada berkeluh-kesah karena banjir, kita keluar membawa cangkul bersama, menggali membersihkan selokan bersama agar lancar sampai ke hilir. Disinilah gotong royong memberikan manfaat yang begitu mahal dan tak ternilai oleh uang, yaitu rasa puas, yang tidak akan pernah dicapai atas kesejahteraan kuantitatif lewat jumlah uang, tapi lewat kesejahteraan kualitatif atas tingginya rasa empati dan sosial kita, karena terpenuhinya segala kebutuhan oleh lingkungan, dengan kita dan seluruh elemen masyarakat di dalamnya, seperti yang disinggung dalam definisi kemiskinan sebelumnya.

 

Dalam skala makro kita bisa melihat pengabdian yang seutuhnya dari seorang abdi negara, yang bekerja sebagai pelayan rakyat, yang benar-benar bekerja demi mewujudkan kepentingan dan aspirasi rakyat, terhindar dari segala jenis KKN, dan dapat menjadi teladan bagi rakyatnya. Ekonomi kita akan tumbuh, sumber daya alam dan manusia kita kelola dan maksimalkan dengan menegakkan segala kekuatan kita sebagai bangsa Indonesia yang bersatu, bukan sebagai individu-individu yang terpisah. Kita bisa mengoptimalkan anggaran pendapatan belanja kita yang akan terasa jauh lebih besar karena bersihnya aparatur negara yang sudah tertanam mental gotong-royong, untuk kepentingan yang lebih mendesak, seperti : membangun jalan, jembatan, puskesmas, sekolah, dan beasiswa sekolah serta jaminan sosial dan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia, apalagi dengan bantuan tenaga dari seluruh rakyat Indonesia sehingga rakyat haruslah berubah dari objek pembangunan, menjadi subjek/pelaku pembangunan bersama pemerintah.

 

Kita harus bersama sama menyadari, bahwa solusi dari segala hal yang kita hadapi saat ini sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial, adalah penerapan ekonomi kerakyatan yang berbasis gotong-royong. Kita, dan 260 juta warga Negara Indonesia lain haruslah sama sama meletakkan beban masalah Negara kita di pundak kita, dan menguraikannya bersama-sama mulai dari hal yang terkecil, yaitu merubah pola pikir kita dari memuja uang menjadi memuja kebersamaan, dan menjunjung tinggi kerjasama dan gotong-royong. Bangsa kita jelas bangsa yang kaya, mengetahui melimpahnya sumber daya alam dan manusia di seluruh penjuru negeri, tapi karena takluknya kita atas sistem kerja upah membuat kita lupa bahwa gotong-royonglah yang sebenarnya sempat membawa bangsa ini sebagai bangsa yang besar. Bangsa yang berdikari, bukan individu yang berdiri sendiri.

Sebuah pepatah bijak mengatakan, apabila kita memuja uang dan merasa akan bahagia karena uang, kita tidak akan pernah bahagia, karena uang jumlahnya tak terbatas dan tak berujung. Sedangkan keringat kita untuk bersama-sama membangun negeri akan memberikan kesejahteraan kualitatif yang tidak akan pernah bisa dihitung, tapi bisa dirasakan sebagai kesejahteraan yang hakiki. Kesejahteraan yang tidak akan pernah dihitung oleh siapapun, dan akan membuang segala kecemasan kita atas inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya adalah hanya hal semu apabila dari dalam diri kita sendiri tidak muncul rasa syukur atas kesejahteraan yang telah kita miliki, dan berbagi kesejahteraan dengan sesama. Dan nilai nilai luhur dari gotong-royong lah yang akan mewujudkan semua itu, karena bangsa kita bukanlah bangsa yang miskin harta, tetapi miskin kebersamaan. Ho lopis kuntulbaris!

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: