Islam Dalam Pembentukan Masyarakat Yang Beradab

Islam Dalam Pembentukan Masyarakat Yang Beradab

Ilham Dary A –XI A 3 / 11

Dibuat sebagai tugas Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti bab Berdakwah dan Berkhutbah

 

بسم الله الرحمن الرحيم

ا لسلا م عليكم ور حمت ا لله وبر كا ته

.. Adzan

 

 إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Innal hamdalillahi nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalahu wa mayyudhlilfalaa haadiyalahu

Asyhadu Anlaa Ilaaha Illallah Wahdahu Laa Syariikalaahu
Wa Asyhadu Annaa Muhammadan ‘Abduhuu Wa Rasuuluhuu
Laa Nabiyya Ba’dahu

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

Allahumma sholli wa sallam ‘alaa sayyidina muhammadin wa ‘alaa alihii wa ash haabihi wa man tabi’ahum bi ihsaani ilaa yaumiddiin.

Allaahumma Shalli ‘Alaa Syayyidinaa Muhammadin
Wa ‘Alaa Aalihii Wa Shahbihii ‘Ajma’iin

Fa-Uushiikum Wa Nafsii Bit Taquullaah
Qaalallaahu Ta’aala Fiil Qur’aanil Kariim
A’uudzubillaahi Minasy Syaithoonir Rajiim

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُم مُسْلِمُوْنَ ْ 

yaa ayyuhalladziina aamanuu ittaqullaaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna ilaa wa antum muslimuun


أَمّا بَعْدُ

ammaa ba’du..

Khotib berwasiat kepada jemaah dan kepada diri khotib sendiri, marilah kita bersama untuk senantiasa meningkatkan kwalitas dan kwantitas iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Pada kesempatan kali ini, khotib akan menyampaikan khutbah yang berjudul : Islam dalam Pembentukan Masyarakat Beradab

Sidang Jum’ah yang dirahmati Allah !

Pada kesempatan ibadah Jum’at yang penuh dengan nikmat karunia Allah Yang Maha Rahman ini, marilah yang pertama-tama kita mengingati akan kebesaran Allah Sang Pencipta seluruh alam, kita syukuri segala rahmat dan nikmat-Nya. Dengan banyak mengingati Allah, Allah akan banyak mengingati kita, Allah akan senang dan cinta kepada kita. Dan dengan banyak mensyukuri rahmat dan nikmat-Nya, Allah akan semakin menambah rahmat dan nikmat-Nya itu.

Kita manusia, adalah satu makhluk Allah yang terbaik kejadiannya, susunan jasmani dan rohaninya. Dengan panca indera dan akal, hati dan nafsu, manusia menjadi makhluk yang berpotensi untuk bertamaddun (berperadaban). Makin lama makin maju dalam segala hal, karena dapat memperbedakan antara yang haq dan yang batil, yang baik dan yang buruk, yang berguna dan yang berbahaya, yang membahagiakan dan yang mencelakakan atau merusak. Dengan banyak mengingati Allah, manusia akan senantiasa ditempa untuk menumbuhsuburkan “fitrah” manusia sebagai makhluk yang beradab, yang dapat memberikan pencerahan dalam kehidupan sosial yang penuh rona dan dinamika ini.

Sekalipun begitu, tidak dapat dibantah juga bahwa manusia tidak hanya mengerjakan kebaikan, tetapi juga mengerjakan banyak keburukan. Kalau banyak manusia yang berbuat baik, maka sungguh berbahagialah masyarakat manusia itu. Tetapi kalau banyak yang berbuat jahat dan melakukan berbagai “teror sosial” sebagai mana sering terjadi saat ini, maka rusak dan kacaulah masyarakat manusia itu.

Firman Allah dalam QS At-Tiin, 95:4-5:

1

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”.

Kaum muslimin yang berbahagia !

Sungguh tak terhingga banyaknya kebaikan manusia, tetapi sungguh tak terhingga pula kejelekan manusia dan kejahatan yang dilakukannya. Manakah yang lebih banyak, apakah kebaikannya ataukah keburukannya ? Semua orang akan menjawab, ternyata lebih banyak keburukan yang dilakukan manusia itu, sehingga banyak manusia yang resah dan khawatir, yang sengsara dan melarat, penuh derita dan nestapa, lebih-lebih di negara kita yang sedang diuji oleh Sang Khalik tanpa ada kejelasan kapan akan berakhir ini.  Bermula dari pukulan balik dari lingkungan yang dieksploitasi dan dicemari secara berlebihan, pukulan ekonomi bagi rakyat kecil dengan melambungnya harga harga, korupsi politik, ekonomi dan degradasi moral, supremasi kepentingan pribadi, nepotistik dan kelompok atas nama kepentingan bangsa dan negara, pemerintah yang tidak tegas dan tidak berdaulat, yang gagal melindungi dan memberi rasa aman bagi seluruh warganya, runtuhnya sistem hukum, etik dan moral, dehumanisasi sebagian besar warga yang termarginalkan dan deifikasi atau pemujaan oknum-oknum elit atas kekuasaan, erosi semangat kebangsaan dan kebersamaan atas kurangnya penghormatan antar umat beragama bahkan antar umat seagama yang mengancam integrasi bangsa dan negara sampai kepada merosotnya ketahanan nasional sebagai suatu bangsa yang berdaulat yang ditandai dengan adanya kerentanan terhadap tekanan partai politik dan tekanan luar negeri, dan sebagai kompensasinya, terjadi dislokasi agresivitas terhadap rakyat dan friksi antar lembaga-lembaga dalam negeri, merupakan tumpukan masalah yang sangat mengganggu, menggelisahkan, meresahkan dan mengancam kehidupan kita sebagai makhluk yang beradab.

Hadirin sidang jumat Rahimatulullah

Yang dinilai sebagai baik dan buruk di sini bukanlah dari dimensi kecanggian sain dan teknologi sebagai hasil olah pikir manusia, melainkan akhlak dan budi pekertinya. Selain akhlak dan budi pekerti, manusia makin lama makin maju dalam segala hal; pakaian yang dikenakan semakin baik, kendaran dan rumah serta semua alat yang mereka ciptakan semakin maju dengan pesatnya. Hanya akhlak dan budi pekertinyalah, baik yang bersifat “person” maupun “publik” yang semakin jelek dan buruk.

Berbagai patologi sosial yang dilakukan manusia lalim sebagaimana di atas tidak mungkin dapat diselesaikan dengan baik manakala manusia merasa dirinya telah “cukup” dan tidak memerlukan adanya intervensi wahyu untuk mengatur hidup mereka. Sebab, satu-satunya ajaran yang paling lengkap dan sempurna adalah ajaran agama Islam dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ajarkanlah kepada orang-orang yang sedang lupa diri itu tentang Allah dan kehidupan akhirat menurut ajaran Islam yang sebenar-benarnya dan selengkap-lengkapnya, Insya Allah mereka akan merubah pandangan hidupnya yang salah selama ini. Sebagai contoh yang tak terbantahkan dalam sejarah peradaban manusia, pelajarilah bagaimana caranya Allah mengubah keadaan bangsa Arab yang rusak dan penuh “kejahiliahan” menjadi bangsa yang terbaik dalam waktu yang relatif singkat, yaitu dalam tempo 23 tahun masa dakwah Rasulullah SAW saja.

Allah SWT dengan perantaraan Rasul-Nya Muhammad SAW dengan Al-Qur’an, meresaplah ke dalam jiwa setiap orang Islam kepercayaan kepada Allah dan kehidupan sesudah mati di akhirat. Berubahlah bangsa Arab menjadi umat yang terbaik, senang berbuat kebaikan dan beriman serta selalu ingat akan Allah sebagaimana firman-Nya:

2

Kuntum hayra ummatin uhrijat lin nasi ta’muruna bil ma’rufi wa tanhawna anil munkari wa tu’minuna billah(billahi), wa law amana ahlul kitabi la kana hayran lahum, minhumul mu’minuna wa aksaruhumul fasikun(fasikuna).

Artinya : ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia; menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (QS Ali Imran, 3:110)

Manakala manusia gemar berbuat baik, benci berbuat jahat dan banyak ingat akan Allah maka itulah umat manusia yang terbaik, sekalipun barangkali ilmunya tidak terlalu tinggi, pakaian, kendaraan dan rumahnya tidak terlalu bagus. Iman dan taqwa sebagi buah dari kesadaran diri kita sebagai makhluk Allah adalah pendorong yang paling kuat untuk berbuat baik dan sekaligus sebagai rem yang paling ampuh untuk mencegah manusia dari berbuat jahat di dunia ini. Tidak ada satu hal lain yang lebih kuat dan tangguh dari iman dan taqwa itu, yaitu iman atau keyakinan yang seyakin-yakinnya terhadap Allah dan kehidupan sesudah mati di alam akhirat yang kekal.

Sebagai umat mayoritas di negeri Indonesia yang kita cintai ini, kita umat Islam hendaklah secara aktif dan apresiatif senantiasa memperjuangkan terciptanya masyarakat yang beradab, masyarakat yang adil dan makmur, lahir dan batin, yang diridhai Allah SWT. Jadikanlah setiap momentum yang baik termasuk ibadah Jum’at kali ini sebagai tonggak untuk menciptakan masyarakat yang lebih utama, dengan jalan masing-masing kita kembali kepada fitrah kemanusiaan kita sebagai makhluk yang gemar beramal saleh dengan membangun kemaslahatan umat dan membuang nafsu-nafsu kebinatangan yang ada pada diri kita masing-masing. Jadikanlah bangsa kita bangsa yang baldatun tayyibatun warobbun goffur

Kaum Muslimin yang berbahagia!

Berdasarkan uraian di atas perlu saya tegaskan sekali lagi bahwa untuk mengatasi segala macam keburukan dalam masyarakat dulu, sekarang dan masa-masa yang akan datang, perlu adanya usaha yang maksimal untuk meningkatkan iman manusia terhadap Allah dan Hari Akhir. Masyarakat yang beradab adalah masyarakat yang ditopang oleh warganya yang senantiasa mengikuti wasiat Nabi SAW yakni ikhlas dalam segala tindak laku dan perbuatan, adil dalam segala tindakannya, sederhana dalam penampilan, mudah memaafkan orang lain, pemberi/dermawan kepada orang yang papa dan masyarakat yang tak berpunya lainnya, penyapa dan ramah dalam pergaulannya, dan senantiasa berpikir, berdzikir dan memberikan kesan yang positif kepada lingkungan sekitarnya.

Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan dan kemampuan kepada jamaah yang dirahmati Allah untuk senantiasa melaksanakan apa saja yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya, termasuk perintah untuk menciptakan masyarakat yang beradab berdasarkan Islam yang rahmatan lil alamin.

Barakallahu lii wa lakum fill qur’aanil azhiim

Wa nafa’nii wa iyyakum bima fiihimaa minal aayaati wa dzikril hakiim

Wa nafa’anaa bi hadii sayyidal mursaliin

Wa biqawlihiil qawiim aquulu qawli haadza

Wa astaghfirullaahal ‘azhiim lii wa lakum

Wa lii syaa-iril mu’miniina wal mu’minaat

Wal muslimiina wal muslimaat min kulli dzanbii

Fastaghfiruuhuu innahuu huwas samii’ul ‘aliim

Wa innahuu huwal ghafuurur rahiim

Khutbah Kedua

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْْْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ., أَمَّابعد,

Innal hamdalillahi robbal’aalamiin wa asyhadu an laa ilaaha illahllaahu wa liyyash shalihiina wa asyhadu anna muhammadan khaatamul anbiyaai wal mursaliina. allahumma shalli ‘alaa muhammadan wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shollayta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim.Wa barok ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarokta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.
Ammaa ba’ad..

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Allahummagh fir lilmuslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati.
Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa. Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa.Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fua ‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina.
Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

‘Ibaadallah
innallaaha ya-muruu bil ‘adli wal ihsaan
wa iitaa-i dzil qurbaa
wa yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi
yaizhzhukum la’allakum tadzakkaruun
fadzkurullaaha ‘azhiimi wa yadzkurkum
fastaghfirullaaha yastajib lakum
wasykuruuhu ‘alaa ni’matil latii
wa ladzikrullaahu akbaru
wa aqiimish shalah

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: