POTRET BUDAYA POLITIK – Noken Pada Pemilu di Papua

Noken jpeg

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

 

Apa jadinya bila mekanisme pemilihan yang dipakai pada negara-negara demokrasi modern diterapkan pada masyarakat adat? Kita menemukan jawabannya di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua, yang mencuat pada pemilu tahun 2009, dan pada akhirnya menjadi sebuah tradisi unik yang memperkaya budaya Indonesia terutama pada potret budaya politik. Masyarakat di Kabupaten Yahukimo pada kala itu terlibat dalam pemilu, namun dalam pelaksanaanya disesuaikan dengan mekanisme adat. Inilah salah satu hal yang sempat mencuat ke permukaan karena dianggap kubu Prabowo- Hatta pada gugatan di MK tidak memenuhi asas Luber Jurdil. Tetapi MK menyatakan sistem itu bisa diterima dengan mengingatk kondisi, kultur, adan adat-istiadat setempat.

Pada negara yang pluralistik seperti Indonesia, konstitusi juga harus mencerminkan watak dan praktik yang menghargai keberagaman social di dalam masyarakat. Gagasan inilah yang dikenal dengan konstitusi pluralis, yaitu gagasan yang menaruh perhatian terhadap keberagaman sistem social dan sistem hukum yang ada dalam suatu negara. Putusan MK yang menjadikan model noken memiliki nilai konstitusional dalam perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum dapat dikatakan sebagai salah satu putusan yang berupaya menjadikan konstitusi Indonesia sebagai konstitusi pluralis.

Pencontrengan kertas suara diwakilkan kepada kepala-kepala suku. Pencontrengan tidak dilakukan di dalam bilik suara dan kertas suara yang dicontreng tersebut tidak dimasukkan ke dalam kotak suara, tapi dimasukkan ke dalam tas khas orang Papua yang disebut “Noken.” Gubernur Papua, Barnabas Suebu dalam satu kesempatan menyebutkan bahwa penggunaan noken sebagai pengganti kotak suara itu sendiri sudah berlangsung sejak pemilu 1971.

Tata cara yang demikian ini dikenal dengan pemilihan model noken yang merupakan sistem pemilihan secara adat. Model pemilihan ini menarik dibahas ditengah perubahan sistem pemilu di Indonesia dalam satu dekade terakhir sebagai salah satu bentuk unik potret budaya politik di Indonesia yang menghargai penuh keberagaman dan penghormatan atas ketua suku di pedalaman Papua.

Tulisan ini menganalisa konstitusionalitas pemilihan model noken tersebut. Untuk menjelaskan hal tersebut, tulisan ini terlebih dahulu menjelaskan apa yang dimaksud dengan noken. Kemudian meletakkan pemilihan model noken ini dalam tiga konteks, yaitu sistem pemilu, paham konstitusionalisme Indonesia dan dengan konteks perjuangan hak-hak masyarakat adat di Indonesia.

  1. RUMUSAN MASALAH

Jika kita menelaah paragraf diatas, terdapat beberapa pertanyaan mendasar berkaitan dengan partai politik. Adapun pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Apakah makna Noken bagi orang Papua sendiri?
  2. Mengapa Noken masih tetap dipertahankan?padahal jelas-jelas Noken sendiri masih kental dengan adat yang ada?
  3. Bagaimanakah proses pemilihan menggunakan model Noken?
  4. Peraturan perundang-undangan dan hukum-hukum apa saja yang mendasari disetujuinya Noken?
  5. Apa sistem Noken menujukkan penghormatan atas keberagaman budaya bangsa Indonesia?
  1. TUJUAN PENELITIAN
  2. Untuk mengetahui makna dari Noken
  3. Untuk mengetahui alasan masyarakat Papua mempertahankan Noken dimana Noken sendiri masih kental dengan adat yang ada
  4. Mengetahui proses pemilihan menggunakan Noken
  5. Mengetahui dan mempelajari peraturan perundang-undangan dan hukum-hukum apa sajakah yang mendasari disetujuinya Noken
  6. Mengetahui sistem Noken yang menujukkan penghormatan atas keberagaman budaya bangsa Indonesia

Penjelasan lebih mendalam tentang Sistem Noken dalam Pemilihan Umum di Papua : POTRET BUDAYA POLITIK

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: