Pendidikan Karakter sebagai Pilar Utama Pencegahan Terorisme

Pendidikan Karakter sebagai Pilar Utama Pencegahan Terorisme

Oleh : Ilham Dary Athallah – XI A 3/11

Guna Mengikuti Lomba Karya Pelajar Kreatif  ‘Kampanye Indonesia Damai’ BNPT 2014 Kategori Lomba Penulisan Esai.

aaaa

Terorisme pertama muncul di Cina 400 tahun yangg lalu sebagai suatu bentuk strategi dagang di mana kekerasan digunakan sebagai upaya untuk mengintimidasi lawan bisnisnya. Tapi terorisme pertama digunakan sebagai alat politik pada saat Revolusi Prancis di mana negara menggunakan kekerasan untuk melenyapkan pihak-pihak yang tidak  sejalan dengan pemerintah pada saat itu. Dihidupkan kembali dengan serangan Al Qaedah ke WTC pada 11 September 2001, terorisme menjelma menjadi isu global yang mempengaruhi kebijakan politik seluruh negara-negara di dunia saat ini, sehingga menjadikan terorisme sebagai musuh bersama.

Pembunuhan massal WTC tersebut telah mempersatukan dunia melawan Terorisme Internasional. Terlebih lagi dengan diikuti terjadinya Tragedi Bali I, tanggal 12 Oktober 2002 yang merupakan tindakan teror, menimbulkan korban sipil terbesar di dunia, yaitu menewaskan 184 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Indonesia telah merasakan bagaimana seluruh sistem perekonomian, kemasyarakatan, dan kestabilan nasional terganggu atas ulah oknum yang tidak bertanggung jawab.

Istilah terorisme pada awalnya digunakan untuk menunjuk suatu musuh dari sengketa wilayah atau kultural melawan ideologi atau agama yang melakukan aksi kekerasan terhadap publik, tetapi saat ini memiliki artian yang jauh lebih luas. Terorisme, yang berasal dari bahasa latin ”terrere” yang berarti gemetaran dan ”detererre” yang berarti takut, pada masa kini dimaknai politis dan sering digunakan untuk istilah kekerasan yang dilakukan oleh pihak musuh, dari sudut pandang yang diserang. Arti politis tersebut terbentuk dikarenakan ada relativitas makna terorisme yang mana menurut William D Purdue, 1989 “the use word terorism is one method of delegitimation often use by side that has the military advantage”. Terorisme yang saat ini kita kenal, lebih banyak terbentuk dari media yang terkadang mengkambing hitamkan pihak tertentu sebelum ada fakta dan proses pengadilan yang sah. Bahkan, Pemerintah Federal Amerika Serikat melegalkan hal yang jelas bertentangan dengan hak asasi manusia dengan menjebloskan terindikasi teroris ke Penjara Guantanamo tanpa tuduhan dan proses pengadilan yang sah. Yang terjadi adalah, kebencian dalam kelompok terorisme itu semakin menjadi-jadi dan berujung implikasi mengobarkan perang melawan Pemerintah Federal Amerika Serikat, layaknya saat ini.

Akar penyebab terorisme di Indonesia sendiri masih bisa diperdebatkan. Banyak sekali media massa yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang paling sering “dituding” sebagai akar penyebab terorisme adalah kemiskinan, yang bahkan oleh Bush Jr. dipandang sebagai kayu bakar yang membuat api terorisme tetap menyala. Akan tetapi, dalam literatur mengenai akar penyebab terorisme, korelasi di antara kemiskinan dan terorisme telah lama dinafikan yang berarti kemiskinan dalam dirinya sendiri tidak menyebabkan terorisme. Tidak ada bukti bahwa para teroris Indonesia seluruhnya berasal dari latar belakang sosio-ekonomi yang rendah atau bergabung dengan kelompok teroris dengan tujuan untuk memperbaiki taraf ekonominya, karena lebih banyak perekrutan terorisme masuk dengan metode cuci otak yang menanamkan doktrin terorisme (brainwash), dibanding janji iming-iming imbalan atas aksi teror yang mereka lakukan.

Sendero Luminoso di Selva Alta, Peru dan Abu Sayyaf Group di Filipina Selatan mungkin memanfaatkan kondisi masyarakat yang miskin untuk membentuk basis mereka dengan memberi atau menjanjikan mereka kehidupan ekonomi yang lebih baik, tapi hal ini tidak dapat dikatakan berlaku di Indonesia, di mana karakter terorismenya kurang bersifat menyebar dan konstituen nya bukan hanya masyarakat dengan kemampuan ekonomi rendah, layaknya Abu Bakar Baasyir yang memiliki pesantren yang cukup luas dan tersohor. Kemiskinan diyakini bukanlah masalah yang paling utama dalam pemberantasan terorisme di Indonesia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam pidato kenegaraannya, Kamis 30 Juli 2009, dengan membawa foto hasil kerja intelijen yang menunjukkan foto SBY dijadikan target latihan menembak, menyatakan bahwa masalah nomor satu terorisme di Indonesia adalah penyimpangan ideologi yang radikal dan ekstrim Peristiwa teror yang terjadi di Indonesia banyak terhubung dengan sebab ini. Radikalisme agama menjadi penyebab unik karena motif yang mendasari kadang bersifat tidak nyata. Beda dengan kemiskinan atau perlakuan diskriminatif yang mudah diamati. Radikalisme agama sebagian ditumbuhkan oleh cara pandang dunia para penganutnya. Menganggap bahwa dunia ini sedang dikuasi kekuatan hitam, dan sebagai utusan Tuhan yang merasa paling benar di muka bumi ini, mereka merasa terpanggil untuk membebaskan dunia dari cengkeraman tangan-tangan jahat.

Penjelasan munculnya terorisme dapat dilihat dari dua sisi, yakni struktural dan agensial. Dari segi struktural, kita dapat mengatakan bahwa satu dari sekian penyebab kemunculan terorisme di Indonesia adalah globalisasi yang sangat bersambut di Indonesia. Indonesia cepat sekali mengalami modernisasi ekonomi, budaya, dan politik, dan cepat sekali menuju masyarakat terbuka yang sangat terekspos pada nilai-nilai budaya Barat yang kemudian memicu munculnya reaksi menolak budaya barat (counter-Westernization), salah satunya berupa bangkitnya Islam politik tipe tertentu yang kemudian disebut revivalis, radikal, atau fundamentalis, yang menjadi landasan ideologi Jemaah Islamiyah (JI) . Pada level nasional, terdapat sejarah berupa represi atau penekanan Islam politik yang memuncak di era Soeharto di mana sebuah “konsensus kebangsaan” berbasiskan nasionalisme dipaksakan kepada rakyat yang mayoritas beragama Islam oleh sebuah rezim otoriter yang tidak ragu menggunakan kekerasan pada rakyatnya sendiri. Rezim ini dipandang menindas dan sangat dekat dengan Barat sehingga berdasarkan pemikiran Islam radikal dapat dikatakan sebagai murtad (keluar dari agama/ aturan agama)

Banyak pemimpin kelompok Islam “radikal” yang tidak dapat menerima konsensus kebangsaan tersebut dicap subversif oleh pemerintah dan akhirnya melarikan diri ke luar negeri, misalnya Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir, para pemimpin JI, yang mengungsi ke Malaysia dan pada akhirnya justru terekspos ideologi jihad global Al-Qaeda yang lebih ekstrim. Para pemimpin ini kemudian kembali ke Indonesia sejak Indonesia menjalani transisi yang tertatih-tatih menuju demokrasi. Kondisi transisi menuju demokrasi ini memberi ruang bergerak yang besar bagi mereka yang ingin membangkitkan kembali gerakan politik Islam radikal yang telah lama ditekan dan pada akhirnya menemukan ekspresi tertingginya dalam gerakan jihad yang lebih ekstrim, yang kemudian sering disebut sebagai “radikalisasi.”

Dari sini, analisis mengenai penyebab munculnya teroris di Indonesia bergerak menuju level agensial: terorisme muncul di Indonesia karena adanya individu-individu yang terdeterminasi untuk melakukan tipe jihad tertentu melalui penggunaan diskriminasi kekerasan (violence) terhadap rakyat sipil. Individu-individu ini difasilitasi oleh kondisi Indonesia yang ideal bagi kemunculan terorisme karena para pejabat dan birokratnya korup, kontrol pemerintah atas teritori dan ekonominya lemah, serta perbatasannya yang sangat luas relatif tidak terjaga dengan baik sehingga lebih mudah diinfiltrasi dan penegakan serta penindakan permasalahan terorisme yang dianggap kurang.

Mereka juga difasilitasi oleh elemen-elemen globalisasi, terutama revolusi teknologi informasi dan komunikasi, perkembangan senjata terutama bom, serta kemudahan akses lintas-batas negara, yang dibuktikan dengan menjamurnya organisasi terorisme yang berafiliasi dengan terorisme internasional, layaknya JI dan ISIS.

Menyikapi perkembangan aktual terhadap munculnya perilaku destruktif, anarkis dan radikalis, pendidikan memiliki peran dan tanggung jawab yang besar sebagai ujung tombak pembentukan generasi penerus bangsa. Pendidikan, yang sesuai makna hakikatnya adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991), sudah seharusnya menjadi pilar utama pencegahan terorisme. Pendidikan yang baik akan menghasilkan sikap dan tata laku warga negara yang baik pula.

Pendidikan tidak bisa dimaknai dengan hanya memberikan penyuluhan atau pembelajaran di bangku sekolah. Pendidikan anti terorisme haruslah diberikan sebagai pendidikan sepanjang hayat (long life education), yang bisa dimaknai dengan menyelipkan nilai nilai karakter luhur baik di media massa dan sosial, lingkungan bermasyarakat, dan tempat ibadah yang diyakini bahwa agama merupakan benteng utama pertahanan diri. Pendidikan agama pun harus diselenggarakan dan diawasi, agar menghasilkan output masyarakat yang baik dan tidak menyimpang, karena ideologi radikal banyak disisipkan oknum tidak bertanggung jawab lewat kegiatan keagamaan.

Pendidikan karakter yang baik juga akan mendidik warga negara untuk tidak mendiskreditkan agama dan atau kelompok tertentu, yang belum tentu melakukan tindak terorisme. Apabila kita menuduh tanpa bukti justru akan menyulut emosi dari pihak agama dan atau kelompok tertentu tersebut. Diperlukan kebijaksanaan dan kehati-hatian dalam pendidakan tindak terorisme sebagai extraordinary crime. Yang pasti, semua orang berpeluang melakukan tindak terorisme apabila tidak dibentengi dengan pendidikan karakter yang kuat.

DAFTAR PUSTAKA

Alan B. Krueger and Jitka Malecˇkova, “Education, Poverty, and Terrorism: Is There a Causal Connection?” Journal of Economic Perspective Vol. 7 No 4 Musim Gugur 2003, h. 119-144.

Jerald M. Post, “The Socio-Cultural Underpinnings of Terrorist Psychology,” dalam Tore Bjorgo (ed.), Root Causes of Terrorism: Myth, Reality, and Ways Forward  (London: Routledge, 2005), h.54.

Mark Juergensmeyer, Terror in the Mind of God (Berkeley: University of California Press, 2000), h. 148.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: