Kolonialisme Belum Mati – Tolak Nekolim!

Kolonialisme Belum Mati – Tolak Nekolim!

Oleh : Ilham Dary Athallah – SMAN 1 Pati

Essai sejarah Aku untuk Indonesia, subtema Sejarah & Globalisasi

Finalis Lomba Esai Osean 2014 – Himpunan Mahasiswa UNNES

ABSTRAKSI

            “ We are often told “Colonialism is dead.” Let us not be deceived or even soothed by that. 1 say to you, colonialism is not yet dead. How can we say it is dead, so long as vast areas of Asia and Africa are unfree. And, I beg of you do not think of colonialism only in the classic form which we of Indonesia, and our brothers in different parts of Asia and Africa, knew. Colonialism has also its modern dress, in the form of economic control, intellectual control, actual physical control by a small but alien community within a nation. It is a skilful and determined enemy, and it appears in many guises. It does not give up its loot easily. Wherever, whenever and however it appears, colonialism is an evil thing, and one which must be eradicated from the earth.” – Kutipan pidato Bung Karno dalam Konfrensi Asia Afrika.

Penjajahan (Imperialisme) terus bertransformasi, ia berubah seiring waktu: dari imperialisme kecil ke imperialisme raksasa, dari imperialisme lampau ke imperialisme terkini, dari imperialisme kuno menjadi imperialisme modern. Imperialisme ini dilahirkan dari rahim kapitalisme, yang tidak akan pernah pudar seiring jaman. Jika dulu kapitalisme kuno sudah mengerikan, kapitalisme modern saat ini jauh lebih menyeramkan. Lihatlah betapa masif jutaan hektar tanah yang dikuasai untuk perkebunan, betapa banyak dan raksasanya pabrik-pabrik dengan asap mengepul di udara milik investor, lihatlah gedung-gedung pelayan jasa perbankan, asuransi, telekomunikasi yang mencakar langit dan dikuasai asing memenuhi sudut kota dan menyingkirkan penduduk asli ke tepi sungai. Penjajahan gaya baru inilah disebabkan kebijakan dan praktek neoliberalisme, yang oleh Soekarno dinyatakan sebagai neokolonialisme-imperialisme (Nekolim).

Kata kunci : Neokolonialisme, Neoimperalisme, Kapitalisme, Globalisasi, Neoliberalisme


Imperialisme dan kolonialisme yang dilakukan bangsa Eropa terhadap negara di dunia, khususnya di Asia dan Afrika merujuk pada sistem pemerintahan serta hubungan ekonomi dan politik negara-negara kaya dan berkuasa, mengawal dan menguasai negara-negara lain yang dianggap terbelakang dan miskin dengan tujuan untuk mengeksploitasi sumber-sumber yang ada di negara tersebut untuk menambah kekayaan dan kekuasaan negara penjajahnya. Eksploitasi ini seringkali diawali dengan pendudukan wilayah (kolonialisme atau penjajahan) di negara sasaran. Negara-negara imperialis ingin memperoleh keuntungan dari negeri yang mereka kuasai karena sumber ekonomi yang mereka miliki tidak mencukupi.

Belahan dunia timur (Far East). Yang pada masa penjelajahan samudera ke dunia timur mengundang semut semut bangsa Eropa yang mencari gula dalam artian kiasan, yaitu mencari berbagai macam sumber daya yang melimpah di belahan dunia timur jauh, termasuk nusantara. Baik melimpahnya penduduk dan sumber daya alam. Dan mencari gula dalam artian sebenarnya, dibuktikan oleh disusunnya Undang Undang Gula (Suiker Wet) oleh Pemerintah Hindia Belanda dan pengembangan pabrik gula di seluruh Nusantara.

Berakhirnya Perang Dunia II, yang ditandai dengan tumbangnya Jerman pimpinan Hitler, dan Jepang, adalah momentum lompatan sebuah dunia yang lebih baik, digadang-gadang sebagai akhir dari era kolonialisme dan imperialisme. Negara negara melahirkan dua kekuatan besar, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Perseteruan yang berlandaskan perbedaan ideologi di antara keduanya menyebabkan terjadinya Perang Dingin dan terbaginya dunia menjadi Blok Barat (liberalisme) yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur (komunisme) yang dipimpin oleh Uni Soviet. Keberhasilan Mustafa Kemal dan Gerakan Turki Muda melakukan Revolusi Turki dan mendirikan Republik Turki merupakan salah satu pemicu timbulnya revolusi di seluruh dunia pada eranya, membentuk republik yang mengakomodasi segala kepentingan rakyat.

Indonesia, setelah beratus-ratus tahun menjadi korban kekejaman kolonialisme dan imperialisme bangsa asing, bergantian dari Portugis, Belanda, Inggris, Belanda lagi, lalu Jepang, akhirnya memerdekakan diri pada 17 Agustus 1945, yang ditengarai oleh kekosongan kekuasaan politik bumi Nusantara yang diakibatkan menyerahnya Jepang pada sekutu pada 15 Agustus 1945. Diproklamirkan oleh Ir Soekarno, Bangsa yang terdiri atas 17.508 pulau tersebar dari Sabang sampai Merauke berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang dalam pembukaan konstitusinya, Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) menyatakan bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Kemerdekaan yang dicita-citakan Bung Karno bukan hanya sekadar retorika berapi-api diatas mimbar menggelorakan semangat cinta tanah air, tetapi juga memiliki tujuan mulia, mendirikan negara yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur, negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tetapi keinginan bangsa kita bak negeri dongeng ini harus menunggu, karena tantangan kolonialisme yang kita hadapi belumlah musnah, tetapi justru semakin menggurita di era globalisasi saat ini dalam paham paham yang masuk ke urat nadi bangsa kita. Paham-paham yang memaksa kita untuk nyaman dijajah dan ingin dijajah oleh bangsa asing.

Sejarah gelap penindasan struktural lewat penjajahan di seluruh dunia secara prinsip adalah bagian sejarah dominasi dan eksploitasi manusia atas manusia (exploitation de l’homme par l’homme) [Scholte,1997]. Sejarah itu tidak kunjung berhenti, dan belum juga menemukan titik terangnya hingga sekarang. Di berbagai penjuru dunia, masih banyak jerit derita dari kaum tertindas,  mulai dari kaum tani, kaum buruh, nelayan dan pengangguran. Penderitaan ini jauh melampaui batas negara, lintas suku, lintas agama, ras, dan batas geografis. Perang, ketidaksetaraan, kelaparan, rendahnya pendidikan, pengangguran, perendahan martabat wanita, pelanggaran hak asasi manusia, degradasi lingkungan dan kemiskinan adalah bukti nyata penjajahan yang terjadi di hampir seluruh penjuru dunia dari mulai Asia, Amerika Latin hingga Afrika. Soekarno yang menyatakan bahwa kolonialisme haruslah dibasmi dari muka bumi ini, tentunya menghadapi tentangan dari pihak yang sudah nyaman atas apa yang disebut Bung Karno sebagai neokolonialisme-imperalisme (Nekolim)

Lewat Negara Islam Indonesia (DI/TII) dibawah pimpinan Kartosoewirjo, Soekarno beberapa kali menerima surat ancaman pembunuhan, Dan sejarah pun sudah mencatat tentang usaha pembunuhan terhadap Soekarno, baik lewat penggranatan di Perguruan Cikini, maupun saat shalat Idul Adha di masjid istana.

Terorisme dan gerakan separatisme merupakan masalah serius yang juga sebagai salah satu wujud nyata kolonialisme gaya baru. Bangsa bangsa asing menanamkan pengaruhnya dalam gerakan separatisme. Perdjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang didukung Amerika dan Negara Pro-Barat layaknya Taiwan, Korea Selatan, Filipina, dan Jepang. Dukungan  yang variatif antara penasehat militer, bantuan amunisi, mitraliur anti pesawat terbang dan kedatangan sejumlah pesawat terbang antara lain pesawat pengangkut DC-3 Dakota, pesawat pemburu P-51 Mustang, dan pembom B-26 invader yang begitu besar sehingga Permesta tidak pernah kehabisan perbekalan ketika bertempur dan sempat mengguncang kedaulatan bangsa.

Tidak berhenti pada era orde lama, pada era orde baru dan reformasi kita mengenal gerakan separatisme Timor Timor yang akhirnya berhasil, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Republik Maluku Selatan (RMS), Organisasi Papua Merdeka (OPM), dan  organisasi internasional yang mulai merambat ke Indonesia yaitu Islamic State (IS). Inilah wujud nyata neoimperialisme yang harus kita sikapi secara bijaksana.

Dalam pola pemikiran neo-liberalisme, yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal mengacu pada filosofi yang mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam bidang apapun, banyak didengungkan dengan diselipkan lewat globalisasi. Globalisasi merupakan hal yang abstrak, namun tidak bisa dipungkiri globalisasi sangat berpengaruh dalam kehidupan terutama dinamika perekonomian bangsa dan dunia. Globalisasi dengan  perekonomian dunia adalah integral karena globalisasi merupakan bentuk penyebaran dari kapitalisme Barat terhadap negara dunia ketiga. Globalisasi kemudian hadir dan berkembang dalam bentuk berbeda dalam periodenya yang kemudian berkembang menjadi model pengembangan ekonomi universal yang dianut semua negara dunia. Globalisasi menjadi wacana yang tidak bisa dihindari dan tidak terbantahkan oleh negara di dunia untuk mengadopsinya. Globalisasi menciptakan adanya pemenang dan pecundang dalam arena keterbukaan ekonomi karena hanya pihak yang memiliki kapital besar yang menjadi pemenang, sementara yang kalah hanya menjadi  penonton saja.

Paham neoliberal meyakini bahwa peraturan-peraturan ekonomilah yang harus menguasai sektor-sektor yang lain, bukan sebaliknya. Apa saja yang menghalangi perkembangan sektor ekonomi harus dicabut, termasuk peraturan-peraturan dan undang undang pemerintah. Akibatnya, pemerintah tidak boleh lagi melestarikan lingkungan hidup, kesehatan, kesejahteraan rakyat, dan kedaulatan nasional, jika dianggap bahwa kebijakan kebijakan itu menghambat ‘perkembangan ekonomi.’. Pasar yang berasaskan kapitalisme (pro pemilik modal) menguasai sepenuhnya sendi sendi kemaslahatan bangsa.

Di bawah kedok demokrasi pasca era reformasi, tingkat eksploitasi sebenarnya justru meningkat. Ini adalah logis, karena bagi kelas penguasa, demokrasi berarti kebebasan untuk menindas. Sebagai konsekuensinya, agenda neo-liberal telah diimplementasikan lebih ganas dalam tahun-tahun belakangan. Pemberian wewenang otonomi daerah yaitu wewenang daerah untuk mengelola daerahnya sendiri menambah panjang deret eksploitasi alam, dan tak tertinggal pula kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah.  Luas daratan Kalimantan yang masih belum dikeluarkan izin usahanya hanya tersisa 22%, sehingga perlu ada peninjauan izin usaha guna menyesuaikan dengan Perpres No. 3/2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan. Tidak heran kalau rakyat letih akan situasi sekarang ini dan skeptis akan apa yang telah dibawa oleh Reformasi 1998 dan rindu orde baru, yang padahal sama saja mempunyai akar kuat neoliberalisme. Undang undang yang pertama kali diciptakan pada masa kepemimpinan Pak Harto adalah Penanaman Modal Asing (UU 1/1967) dengan perusahaan yang pertama kali melakukan kontrak karya adalah PT. Freeport, yang sesuai dengan kontrak karya II yang disahkan pada tahun 1991 memiliki hak untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi wilayah sebesar 2,6 juta hektar di Timika, Papua.

Neoliberalisme secara umum berkaitan dengan tekanan politik multilateral, melalui berbagai kartel keuangan dan pengelolaan perdagangan seperti WTO, IMF, dan Bank Dunia, mengakibatkan berkurangnya wewenang pemerintahan sampai titik minimum. Neoliberalisme melalui ekonomi pasar bebas berhasil menekan intervensi pemerintah (seperti paham Keynesianisme), dan melangkah sukses dalam pertumbuhan ekonomi keseluruhan. Untuk meningkatkan efisiensi korporasi, neoliberalisme berusaha keras untuk menolak atau mengurangi kebijakan hak-hak buruh seperti upah minimum, dan hak-hak daya tawar kolektif lainnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya kebijakan outsourcing, eksploitasi pekerja dibawah umur, menumpuknya hutang negara pada pihak asing sebagai wujud ketergantungan, dan betapa mudahnya pemerintah melepas sektor sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak untuk diprivatisasi dan dikelola oleh pihak swasta, contohnya Indosat, dan masih banyak perusahaan lainnya yang mencederai cita cita Bung Karno membangun bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari).

Bangsa asing juga memaksa kita untuk takluk akan kebijakan pasar bebas, salah satunya adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan dilaksanakan di tahun 2015 merupakan kerjasama di negara – negara Asia Tenggara dalam tujuan meningkatkan ekonomi masing – masing negara dengan konsep utama menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi dimana terjadi  transaksi bebas (free flow) atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN. Kebijakan neokapitalis layaknya pasar bebas ini justru akan semakin mendesak rakyat kita yang sudah terseok-seok bersaing dengan tingkat pendidikan yang rendah, lapangan kerja yang terbatas, dan tingginya jumlah penduduk Indonesia. Terkhusus jumlah penduduk yang seharusnya bisa menjadi bonus demografis layaknya Tiongkok justru menjadi bumerang bagi bangsa kita karena kita tidak dapat mengembangkan potensi melimpahnya tenaga kerja bahkan justru membebani negara dengan menggelembungnya biaya jaminan sosial.

Dari segi pertahanan keamanan, neoimperialisme merasuk atas nama Dewan Keamanan PBB yang suara mutlaknya hanya dimilik oleh negara tertentu pemenang Perang Dunia II sebagai anggota tetap DK PBB (Amerika Serikat, Britania Raya, Tiongkok, Prancis,dan Rusia) , membuat PBB jelas tidak layak disebut sebagai lembaga demokratis. Dengan hak vetonya, Amerika Serikat tidak menyetujui kemerdekaan dan keanggotan PBB Palestina, menolak pemberian sanksi pada Israel atas kejahatan di Jalur Gaza dan Tepi Barat, dan melakukan agresi militer atas nama perdamaian ke Iraq, Afghanistan, dan Libya, membuat bangsa lain tidak berdaya dan keanggotaannya hanya dianggap sebagai legitimasi atas imperialisme Amerika di dunia internasional. Walaupun Konvensi Internasional telah menyatakan larangan untuk menciptakan, dan menyimpan senjata biologis yang dinyatakan dalam 1972 Biological and Toxin Weapons Convention (BWC) dan Perjanjian Nonprofilerasi Nuklir pada tahun 1967 yang menyatakan bahwa melarang pengembangan senjata nuklir, yang lagi lagi memiliki pengecualian non-profilerasi untuk 5 negara anggota tetap PBB. Tidaklah mengagetkan apabila kita menemui perang saudara di Suriah yang terindikasi menggunakan senjata biologis.

Tapi jangan lupa, masalah kita yang paling utama dalam menghadapi neo-kolonialisme dalam segala bentuk dan paham yang dibawanya adalah mental kita, yang masih penuh atas sikap korupsi, kolusi, nepotisme (KKN). Kongsi Perdagangan Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC) yang pada masa keemasannya mengontrol dan memonopoli aktifitas perdagangan di Asia menjadi perusahaan multinasional pertama di dunia, serta pada 1699  perusahaan privat publik terkaya sepanjang sejarah dengan lebih dari 150 perahu dagang, 40 kapal perang, 50.000 pekerja, angkatan bersenjata pribadi dengan 10.000 tentara, dan pembayaran dividen 40%, akhirnya jatuh bangkrut karena korupsi, kolusi, dan nepotisme pekerjanya, dan dimasa kini pula, banyak oknum pejabat yang mementingkan diri sendiri dengan memperkaya diri, menyalahgunakan wewenang, memberikan ijin eksploitasi, membuat peraturan perundang undangan yang menguntungkan segelintir kelompok dan elit masyarakat dibanding kepentingan masyarakat banyak. Kita sedang berada di ujung jurang menuju kejatuhan yang sama layaknya VOC di masa lampau.

Terkikisnya rasa cinta tanah air dan rendahnya patriotisme bangsa adalah salah satu wujud nyata betapa globalisasi dengan paham neo-kolonialisme dan neo-liberalisme telah mengambil alih kedaulatan kita bahkan dibidang sosial budaya. Pemujaan kita atas budaya asing dan rendahnya rasa cinta dan kemauan untuk melestarikan, mengembangkan, dan mengimplementasikan budaya lokal merupakan wujud nyata bahwa kita telah menempuh jalan yang salah. Pada jaman kepemimpinan Van Den Bosch kita mengenal bagi hasil tanaman (culturprocenteen) sebagai imbalan atas kelebihan mengumpulkan hasil bumi tanam paksa (culturstelsel) yang berupa baju dari benua biru, yang saat itu sangat diidolakan para pribumi. Hal inilah yang didobrak oleh Soekarno pada eranya dengan penggunaan peci sebagai identitas bangsa. Peci, yang pada masanya diidentikan sebagai simbol masyarakat rendah, dibawa Soekarno dalam rapat Jong Java di Surabaya pada 1921. ”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.” (Pidato Bung Karno dalam rapat Jong Java)

KESIMPULAN

Globalisasi ada bukan untuk dihindari, bangsa asing ada bukan untuk dimusuhi, tapi neokolonialisme, neoimperialisme, dan neokapitalisme haruslah disikapi secara bijaksana demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara kita adalah negara yang menganut asas pancasila, baik secara ekonomi maupun struktur sosial. Negara kita menganut prinsip ekonomi kerakyatan, yang dalam Undang Undang Dasar Pasal 33 ayat 3 dinyatakan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh. Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Asas kapitalisme jelas bertentangan dengan ekonomi kerakyatan, tapi bukan berarti kita menolak segala bentuk bisnis. Pemerintah seharusnya bekerja sama dengan pihak swasta untuk bersama membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Asas Government to Business (G2B) bisa menjadi acuan bahwa kemakmuran bangsa bukan semata-mata beban pemerintah tapi beban dari seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali.

Terorisme merupakan tantangan berat bagi bangsa tapi cara radikal selayaknya perebutan Papua Barat pada masa lampau sudah tidak dapat dilakukan di Indonesia, mengingat ketatnya pengawasan dunia atas penegakan Hak Asasi Manusia, yang bisa jadi bangsa kita justru akan dicap sebagai pelanggar HAM oleh media yang mayoritas stereotipe bangsa asing. Penanaman rasa cinta tanah air merupakan solusi pertama dan utama yang harus kita laksanakan, ditambah lagi dengan pengembangan kesejahteraan daerah konflik. Pemberian Dana Otonomi Khusus kepada Papua sebagai salah satu bentuk nyata kemauan pemerintah untuk membuat Papua mengejar ketinggalan di segala bidang dengan daerah lain dan upaya untuk menyejahterakan rakyat. Kita tentu tidak boleh lupa bahwa semua revolusi berasal dari rakyat yang lapar, seperti Tritura yang mengamanatkan untuk menurunkan harga sembako, atau contoh lain layaknya Revolusi Prancis.

Keluar keanggotaan dari PBB juga bukan solusi atas masalah neokolonialisme, diplomasi lah yang harus kita selami lebih dalam. Mengambil pepatah dari Woodrow Wilson, Presiden Amerika Serikat “A pen is mightier than a sword”. Senjata nuklir dan biologis pun harus dimusnahkan dari bumi ini untuk dunia yang lebih baik, adalah sebuah kebohongan paling keji yang menyatakan bahwa pengembangan senjata atas dasar tugas sebagai polisi dunia (peacekeeper)

Dan yang paling penting, kita harus menjunjung tinggi budaya kita dan menolak untuk melakukan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme dalam hal apapun demi bangsa yang lebih baik. Inilah yang paling berbahaya dari segala paham neokolonialisme, yaitu penjajahan oleh bangsa sendiri, bahkan oleh para pemimpin sendiri. Apabila uang rakyat digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran  rakyat, maka cita cita Soekarno yang mengimpikan Indonesia bak negeri dongeng bukanlah khayalan semata. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama dengan pendahulu kita, karena itu berarti kita tidak mempelajari sejarah dan menyikapi secara bijaksana. Jas merah, Jangan sekali kali melupakan sejarah!

“Perjuanganku lebih Mudah karena melawan Bangsa lain , tapi perjuanganmu lebih Berat karena melawan Bangsa sendiri” – Bung Karno

DAFTAR PUSTAKA

Africa-Asia Speaks from Bandong, (DjakartaL Indonesian Ministry of Foreign Affairs, 1955), 19-29

Ashley, Richard, 1996. The achievements of post-structuralism, in; Steve Smith, Ken Booth & Marysia Zalewski (eds.) International Theory: Positivism and Beyond, Cambridge University Press, pp. 240-253.

Campbell, David, 2007. Poststructuralism, in; Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.) International Relations Theories, Oxford University Press, pp. 203-228.

Scholte, Jan, 1997. “Global Capitalism and The State”, International  Affairs, Oktober, 73(3): 427-452

Kemal Attaturk ; BBC History (www.bbc.co.uk/history/historic_figures/ataturk_kemal.shtml)

“Pemimpin Indonesia Emas 2045” (www.academia.edu/6688342/_Pemimpin_Indonesia_Emas_2045_) Diakses 10 Oktober 2014

“Teka teki Misterius Kartosoewirdjo terungkap (nasional.kompas.com/read/2012/09/05/19274674/TekaTeki.Misterius.Kartosoewirjo.Terungkap….) Diakses 11 Oktober 2014

Fakta Tentang Freeport Indonesia (ptfi.co.id/id/media/facts-about-feeport-indonesia/facts-about-kontrak-karya) Diakses 12 Oktober 2014

History – Permesta to Now; North Sulawesi Tourism Promotion Board (www.north-sulawesi.org/nhistory.html) Diakses 13 Oktober 2014

Biologic Weapon ; Federation of American Scientist Harvard University (fas.harvard.edu/~hsp/biologic.html) Diakses 14 Oktober 2014

VOC bij Nationale bibliotheek van Nederland (http://www.kb.nl/dossiers/voc/voc.html) Diakses 15 Oktober 2014

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: