Antitesis Perjalanan Peradaban Dunia bertajuk Islam Nusantara

Antitesis Perjalanan Peradaban Dunia bertajuk Islam Nusantara

Esai Sejarah Subtema Sumbangan Indonesia dalam Peradaban

Oleh : Ilham Dary Athallah* – SMA Negeri 1 Pati

Mangkono janma utama,

Tuman tumanem ing sepi,

Ing saben rikala mangsa,

Masah amemasuh budi,

Laire anetepi,

Ing reh kasatriyanipun,

Susila anor raga,

Wignya met tyasing sesami,

Yeku aran wong barek berag agama.

 

Terjemahan: Demikianlah utamanya manusia, Gemar terbenam dalam sepi (meredam nafsu), Di saat-saat tertentu, Mempertajam dan membersihkan budi, Bermaksud memenuhi tugasnya sebagai satria, berbuat susila rendah hati, pandai menyejukkan hati pada sesama, itulah sebenarnya yang disebut menghayati agama.

(Mangkunegoro IV. Tembang Sinom dalam Serat Wedhatama)

Setiap agama yang menjadi kepercayaan manusia, pada hakikatnya diturunkan Tuhan untuk mendorong serta mewajibkan manusia beribadah dan bertindak secara luhur agar membawa perdamaian yang diiringi oleh kebahagiaan lahir batin bagi segenap insan manusia. Tetapi dalam perjalanan sejarah dunia, justru  banyak terjadi pertumpahan darah yang terjadi atas nama agama di banyak negara di dunia, seakan akan kekejaman layaknya holocaust dan genosida kepada umat beragama tertentu adalah amanat dari Tuhan. Islam Nusantara yang diaplikasikan di Indonesia seakan menjadi antitesis atas hal-hal tersebut.

Nama Tuhan Disalahgunakan

Nama Tuhan pada perjalanan sejarah dunia sering disangkut pautkan dan disalahgunakan oleh penguasa. Orang eropa menggambarkan begitu kejamnya agama saat era kebangkitan religi di Eropa dengan istilah Medieval era (Masa Kegelapan). Istilah gelap juga dianggap sebagai kealpaan prospek yang jelas bagi perkembangan masyarakat Eropa pada zaman tersebut. Keadaan ini terjadi akibat wujud kekuasaan mutlak agama, yaitu gereja Kristiani yang sangat berpengaruh dalam mengawasi pemikiran masyarakat serta perkembangan sosial politik. Mereka berpendapat, hanya gereja saja yang pantas untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya kaum cendekiawan yang terdiri daripada ahli-ahli sains merasa ditekan dan dikawal ketat. Pemikiran mereka pun ditolak dan timbul ancaman dari gereja, yaitu siapa yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan didera masalah, bahkan diancam dibunuh. Sebagai konsekuensinya, sains yang telah berkembang di zaman klasik dipinggirkan dan dianggap sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari pemikiran ketuhanan.

Dengan demikian, kerangka berpikir yang dominan pada abad pertengahan akibat tekanan kuat para elit gereja yang menganggap dirinya pengawas tatanan yang menguasai dunia dan telah menggunduli ideologi para ilmuwan dengan cara menyeret mereka ke pengadilan serta membentuk paradigma bahwa kegiatan ilmiah sebagai campur tangan setan. Penguasa pada zaman itu menjatuhkan hukuman mati kepada mereka yang menentangnya, dengan alibi “atas nama Tuhan”. Tentu saja, penyimpangan ini hanya akal-akalan penguasa pada zaman tersebut dan tidak pernah sama sekali tercantum pada kitab agama manapun, karena agama selalu mengajarkan rasa cinta kasih pada sesama.

Selain itu, perbedaan dalam menafsirkan serta memahami ideologi dalam agama juga menimbulkan friksi yang luar biasa. Perbedaan Sunni-Syiah yang begitu kental di Timur Tengah misalnya, yang berakar dari keyakinan kaum Syiah bahwa hak Ali sebagai imam pasca Nabi wafat telah dirampas oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman yang masing-masing telah dibaiat oleh para sahabat (jamak dikenal dengan Khulafaur Rasyidin). Keyakinan ini membawa konsekuaensi logis pada sikap benci penganut Syiah kepada Abu Bakar, Umar, Utsman dan hampir semua sahabat Nabi. Termasuk kebencian terhadap istri Nabi SAW yakni Aisyah dan Hafsah. Bahkan caci-maki terhadap sahabat menjadi hal yang lazim bagi mereka.

Konsekuensi lain, Syiah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para Khalifah selian Ali; antara lain Abu Bakar, Umar, dan Utsman dengan alasan ketiganya telah merampas hak Ali sebagai khalifah. Bagi Syiah,  orang-orang yang merebut kekuasaan dari Ali telah zalim dan fasiq sehingga riwayat hadits mereka harus ditolak. Syiah menolak hadits dari mayoritas sahabat karena  para sahabat terbukti zalim dan fasiq karena telah membaiat ketiganya. Maka mereka tidak percaya dengan kitab hadist Shahih Bukhori ataupun Shahih Muslim. Syiah hanya menerima hadits-hadits yang diriwayatkan dari jalur Ahlul Bait.

Sementara Sunni sebagai kaum mayoritas menjalankan ritual ibadah berdasar kitab-kitab fiqh empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii, Hambali) yang kesemua merujuk ke kedua kitab Hadits Shahih tersebut. Sejarah tersebut membentuk perbedaan yang signifikan dalam pelaksanaan aqidah, maupun ibadah, termasuk sholat, puasa, haji, dan seterusnya. Konflik ideologi ini pun terus berlangsung dengan pecahnya kepemimpinan Islam di Timur Tengah hingga dominasi masing-masing faksi pada sistem pemerintahan di Timur Tengah saat ini, Syiah berporos di Iran dan Suriah, serta Sunni berporos di Saudi.

Konflik yang tak berujung ini mengakibatkan alpanya nilai-nilai kemanusiaan Negara Timur Tengah untuk menolong korban konflik (refugee) dari Suriah yang akibat konflik berkepanjangan antara pemerintah melawan oposisi, maupun melawan ISIS. Mereka saat ini harus mengarungi kejamnya Laut Meditarenia dan menempuh jarak yang sangat jauh untuk mencari tempat tinggal baru di Eropa, hanya karena disebabkan phobia Negara Timur Tengah atas infiltrasi budaya Syiah.

            Teladan Akulturasi sebagai Sumbangsih Bangsa

Berbeda dengan negara lain, kita berhasil menunjukkan pada dunia begitu kokohya nilai luhur bangsa kita dalam menyikapi gelombang masuknya agama ke Nusantara, mulai dari Hindu, Buddha, Kristen/Katholik (saat era kolonialisme), maupun Islam yang datang ke Nusantara dimulai dari abad ke-13 Masehi. Lewat akulturasi budaya agama dengan budaya lokal, bangsa ini menunjukkan, sembari berkontribusi pada peradaban dunia dengan menunjukkan bahwa budaya lokal yang dipegang teguh bangsa ini dapat melewati beragam rintangan penyesuaian keberagaman keyakinan dalam diri manusia. Agama masuk dengan damai di Indonesia dan berkembang secara sporadis dalam membentuk kepercayaan masyarakat.

Sejarah mencatat, kepulauan-kepulauan Nusantara merupakan daerah yang terkenal sebagai  penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Hal tersebut membuat banyak pedagang dari  berbagai penjuru dunia datang ke Nusantara untuk membeli rempah-rempah yang akan dijual kembali ke daerah asal mereka. Termasuk para pedagang dari Arab, Persia, dan Gujarat. Selain  berdagang, para pedagang muslim tersebut juga berdakwah untuk mengenalkan agama Islam kepada penduduk lokal. Beragam teori yang tersebar dalam kajian literatur (Teori Gujurat, Makkah, Persia) menjelaskan awal masuknya Islam ke Indonesia.

Proses masuknya islam ke Indonesia dilakukan secara damai dengan cara menyesuaikan diri dengan adat istiadat penduduk lokal yang telah lebih dulu ada. Ajaran-ajaran Islam yang mengajarkan persamaan derajat, tidak membeda-bedakan si miskin dan si kaya, si kuat dan si lemah, rakyat kecil dan penguasa, tidak adanya sistem kasta dan menganggap semua orang sama kedudukannya dihadapan Allah telah membuat masyarakat perlahan-lahan mulai memeluk agama Islam. Akulturasi dan kuatnya nilai lokal yang berlandaskan filosofi kebhinekaan merupakan kunci mulusnya infiltrasi agama di Indonesia.

Akulturasi agama islam yang bercorak Arab, dengan budaya nusantara berjalan dengan beragam cara. Dalam sejarahnya, proses islamisasi di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran besar Walisongo. Jika kita memperhatikan pola penetrasi budaya yang mereka lakukan, ternyata para Walisongo ini tidak menempuh jalur kekerasan sedikitpun. Walisongo amat memahami pluralitas yang ada di Indonesia dan secara bijak larut kedalamnya serta turut berpartisipasi dalam menentukan alur sejarah bangsa. Mereka juga terlibat dalam peran-peran pembaharuan dan pencerdasan masyarakat.

Muncul saat runtuhnya dominasi kerajaan Hindu Budha di Indonesia, Walisanga terdiri atas dari sembilan orang; Maulana Malik Ibrahim (Sunan Demak), Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga. Kesembilan “wali” yang dalam bahasa Arab artinya “penolong” ini merupakan para intelektual yang terlibat dalam upaya pembaharuan sosial politik yang pengaruhnya sangat terasa dalam berbagai manifestasi kebudayaan, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaankebudayaankesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.

Yang menarik dari kiprah para Walisongo ini adalah aktivitas mereka menyebarkan agama di  bumi pertiwi dilaksanakan tanpa langsung menentang kebiasaan-kebiasaan lama masyarakat yang sedikit banyak bertentangan dengan kaidah keagamaan Islam. Namun Walisongo justru menjadikannya sebagai sarana dalam dakwah mereka dengan penyesuaian pada bagian tertentu. Salah satu sarana yang mereka gunakan sebagai media dakwah mereka adalah wayang.

Sejarah mencatat, pementasan wayang konon telah ada di bumi Nusantara semenjak dikenalnya paham animisme (pemujaan roh) 1500 tahun yang lalu, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar. Sunan Kalijaga yang menyadari potensi pementasan wayang yang sangat digandrungi masyarakat akhirnya menggunakan media tersebut untuk berdakwah dengan sedikit penyesuaian. Bentuk wayangpun diubah yang awalnya berbentuk menyerupai manusia menjadi bentuk yang baru. Wajahnya miring, leher dibuat memanjang, lengan memanjang sampai kaki, dan bahannya terbuat dari kulit kerbau.

Dalam hal esensi yang disampaikan dalam cerita-ceritanya tentunya disisipkan unsur-unsur moral ke-Islaman. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Widi). Tuhan Yang Maha Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinannya tersebut Bima mengajarkan keyakinannya kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil, dan bertata krama dengan sesama manusia. Penyebaran pesan aqidah akhlak serta ilmu basis fiqih dimulai dari sini.

Sunan Kalijaga adalah salah satu Walisongo yang tekenal dengan minatnya dalam berdakwah melalui budaya dan kesenian lokal. Beliau menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, layang kalimasada, lakon wayang Petruk Dadi Raja.

Disamping menggunakan wayang sebagai media dakwahnya,para wali juga melakukan dakwahnya melalui berbagai bentuk akulturasi budaya lainnya. Media tersebut bervariasi layaknya melalui penciptaan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa yang baru baru ini sempat heboh di masyarakat (langgam jawa), gamelan, dan lakon islami. Setelah penduduk tertarik, mereka diajak membaca syahadat, diajari wudhu, shalat, dan sebagainya.

Kelebihan intelektual yang mereka miliki sebagai kelompok yang datang dari peradaban yang lebih maju, mereka abdikan untuk membangun masyarakat Indonesia pada saat itu. Sarana lain yang mereka lakukan dalam dakwah mereka adalah dengan membentuk keluarga-keluarga Islam dengan jalan menikahi penduduk pribumi sembari mengislamkan kerajaan di Nusantara yang pada kalanya masih bercorak Hindu Budha. Para Walisongo juga membangun pusat-pusat penyebaran agama Islam berupa pesantren. Dengan adanya pesantren-pesantren ini penyebaran Islam di tanah Jawa berlangsung dengan cepat. Selanjutnya dari pusat-pusat kegiatan sosial ini berkembang lahan-lahan pertanian dan perikanan termasuk juga aktivitas politik dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, yang masih dibentuk dengan corak budaya lokal, layaknya Masjid Menara di Kudus yang bercorak Hindu. Akulturasi semacam inilah yang dipopulerkan organisasi Nadhatul Ulama, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, dengan sebutan Islam Nusantara. Islam yang mengakomodasi kemajemukan nilai religius dalam kemasyhuran khazanah budaya lokal.

Fakta sejarah memberikan gambaran kepada kita bahwa Islam hadir ke bumi pertiwi tanpa pemaksaan, namun melalui jalan damai yaitu akulturasi budaya. Secara dinamis, Walisongo menginisiasi pencerdasan dan pembangunan masyarakat secara kultural dan dari sanalah penyebaran Islam dilakukan. Bahkan kita melihat bagaimana wayang sekalipun yang notabene berasal dari ajaran animisme yang sangat kontras dengan ajaran Islam dapat digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan Islam setelah dilakukan modifikasi terlebih dahulu. Para penyebar agama Islam di tanah air dahulu mencoba menggali dan memahami adat istiadat dan khazanah budaya yang ada terlebih dahulu untuk kemudian dimanfaatkan untuk berdakwah.

Pelajaran lainnya adalah bagaimana misi keagamaan yang diemban para wali disertai dengan kerja-kerja sosial sehingga menghasilkan sebuah kerja relijius yang lebih membumi dan mampu diterima dengan basis penerimaan yang kuat. Upaya mereka dengan membangun pusat-pusat pendidikan dan penggerak ekonomi merupakan buktinya. Penyebaran agama ala Islam Nusantara, yang dibawakan dengan sejuk inilah yang harus kita lanjutkan, sembari menjadi teladan bagi peradaban dunia yang masih banyak dirundung konflik.

Dalam diskusi panel yang dilaksanakan Ramadhan lalu di Markas PBB, New York, wajah Muslim Indonesia yang moderat menjadi topik diskusi antara para pemuka agama, pengamat, diplomat, serta tokoh masyarakat. Diskusi yang diprakarsai Perwakilan Tetap Republik Indonesia di PBB ini mengangkat tentang kesuksesan Islam Nusantara. Islam Nusantara dijadikan contoh bagi negara-negara dunia untuk menunjukkan keragaman, toleransi dan demokrasi.

Tantangan Penegakan Islam Nusantara

Tantangan zaman ke depan yang semakin majemuk memerlukan formulasi cara beragama yang tepat. Globalisasi cenderung membawa kepada kehidupan yang serba materialistik-sekular, dimana nilai dan moralitas baik yang bersumber dari agama maupun masyarakat lokal tidak lagi dianggap relevanbagi arus modernisasi. Institusi moral seperti keluarga dan lembaga keagamaan pun kian kehilangan signifikansi peranannya dalam masyarakat. Setiap individu dalam masyarakat merasa berhak menentukan sikap dan perbuatannya atas pemikiran masing masing, dan mengabaikan tuntunan moralitas yang ada. Belum lagi terjangan paham neoliberalisme dalam segala bentuk, termasuk ekonomi dan sosial politik.

Ditambah, semakin mudahnya akses media sosial yang terkadang menyebarkan informasi sesat dan tidak akurat guna memecah belah persatuan umat. Tidak ketinggalan pula perkembangan masif dari jaringan organisasi ekstrim islam layaknya Hizbut Tahrir Indonesia yang sudah menjadi organisasi terlarang di Mesir, Saudi Arabia, dan banyak Negara Timur Tengah lainnya, menyebar secara sporadis memasuki pengajian melalui organisasi kesiswaan maupun kemahasiswaan di sekolah maupun kampus. Fakta lapangan tersebut mengingatkan kita esensi perlunya penegakan Islam Nusantara guna membentengi kemasyhuran bangsa dalam keberlangsungan beragama tetap terjaga.

Dalam hal ini, Islam Nusantara yang telah melewati ujian yang serius dalam beberapa periode zaman, Islam Nusantara kembali ditantang relevansinya oleh zaman. Di tengah kondisi yang serba limbung di atas, Islam Nusantara dengan segala khazanah kebudayaan, tradisi, warisan intelektual, basis ekonomi dan kekuatan politk etik nya mampu menjadi salah satu alternasi jalan untuk keluar dari jeratan masalah.

Konkretnya, aplikasi Islam Nusantara yang dilaksanakan lewat pesantren sesungguhnya memiliki potensi pemberdayaan umat yang sangat besar. Dengan jumlah ribuan santri dan masifnya jaringan yang dibangun pesantren, pesantren mampu melakukan fungsi pemberdayaan (empowering) masyarakat secara ekonomi, sosial, budaya dan politik, yang tentu saja berasas Islam Nusantara. Konsep pemberdayaan berbasis pesantren ini telah terbukti di Pesantren Maslakhul Huda di Kajen, Pati, yang dahulu diasuh oleh Almarhum KH Sahal Mahfudz. Pesantren ini mampu merintis program program pemberdayaan masyarakat yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat dengan cara mendorong siswanya yang sudah diberi pendidikan secara gratis untuk mengaplikasikan ilmunya pada masyarakat, baik masyarakat sekitar maupun Indonesia. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) era Kabinet Kerja saat ini,  Imam Nahrawi, merupakan salah satu dari sekian banyak jebolan pesantren tersebut yang berhasil menjalankan amanat sang pimpinan pesantren.

Tetapi, bukan berarti Islam Nusantara adalah sepenuhnya monopoli milik pesantren. Contoh tadi hanyalah salah satu diantara beragamnya aplikasi Islam Nusantara dalam kehidupan sehari-hari kita sejak zaman Walisongo berlangsung, yang tanpa kita sadari bersama mulai kita tinggalkan dan pinggirkan dari kehidupan kita. Tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), atau bentuk kejahatan lainnya yang marak terjadi di masyarakat adalah bukti nyata jauhnya kita dari budaya Islam, utamanya Islam Nusantara.

Dalam istilah yang dipopulerkan Gus Dur dalam Syair Tanpo Waton, yang mencerminkan sikap dan perilaku dari Islam Nusantara, umat yang baik adalah umat yang tidak seneng ngafirke marang liyane (suka mengkafirkan orang lain), yang memahami Islam dengan cara ojo mung ngaji syarekat bloko (tidak hanya belajar syariat saja), tapi juga harus mapan seri ngelmune (lengkap dalam mempelajari ilmu islam), dan laku thoriqot lan ma’rifate (melaksanakan ilmu tersebut)

Islam Nusantara selain mampu mensintesakan nilai nilai kosmopolitanisme dan universalisme Islam, juga pada saat yang bersamaan menghargai kebudayan lokal sekaligus mengakomodir konsep nasionalisme yang berasaskan Pancasila. Dalam perjalanan sejarah, Nadhatul Ulama adalah organisasi keislaman pertama yang berani menaati Rancangan Konsepsi Kebangsaan yang digagas Presiden Soeharto, bahwa semua organisasi masyarakat haruslah berideologi tunggal Pancasila. Karena selain memahami bahwa Pancasila sesuai dengan Asas Keislaman, Islam Nusantara juga memahami kemaslahatan umat dan kearifan lokal selalu dapat berjalan seirama dengan pengembangan Islam selama sesuai dengan koridor aqidah akhlak dalam Al Qur’an dan Hadist. Oleh karena itu, Islam Nusantara yang telah berhasil mengarungi ganasnya masa awal penyebaran Islam di Indonesia harus kita kawal agar apinya tetap membara dalam mengawal arus globalisasi demi kemaslahatan bangsa, maupun sebagai teladan bagi peradaban dunia.

 

*Penulis merupakan Ketua OSIS SMAN 1 Pati 2014/2015, pernah aktif sebagai pengurus Ikatan Pelajar Nadhatul Ulama (IPNU) Kabupaten Pati.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Syamsuddin, 2000, Islam Nusantara : Historiografi dan Metodologi, Jakarta

Madjid, Nurcholish, 2009, Islam, Keindonesiaan dan Modernisasi, Jakarta, Penerbit Mizan Pustaka

Mangkunegoro IV. Tembang Sinom dalam Serat Wedhatama (Diakses dari sabdalangit.wordpress.com pada 18 Oktober 2015)

  1. Budi Hardiman, 2011, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern (Dari Machiavelli sampai Nietzsche), Hal. 7,8,10

Riawati, Dhevi, Sejarah Masuknya Islam di Indonesia. (Diakses dari http://www.scribd.com/doc/42724944/Makalah-Sejarah-Masuknya-Islam pada 18 Oktober 2015)

NU : PBNU Senang, Diskusi Islam Nusantara Digelar di Gedung PBB (Diakses dari nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,60756-lang,id-c,nasional-t,PBNU+Senang++Diskusi+Islam+Nusantara+Digelar+di+Gedung+PBB-.phpx pada 18 Oktober 2015)

Hizbut Tahrir : Mengapa Hizbut Tahrir Dilarang Di Banyak Negara (Diakses dari http://hizbut-tahrir.or.id/2015/01/08/pertanyaan-yang-sering-berulang-tentang-hizbut-tahrir/ pada 18 Oktober 2015)

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia : Mengapa Imigran ke Eropa, Bukan ke Timur Tengah? (Diakses dari http://www.cnnindonesia.com/internasional/20150908131728-134-77324/mengapa-imigran-ke-eropa-bukan-ke-timur-tengah/ pada 18 Oktober 2015)

Rosyadi, Fikri, 2012, Skripsi Pemaknaan Pada Syair “Syair Tanpo Wathon”(Studi Semiotik Deskriptif Kualitatif Pemaknaan Syair Pada “Syair Tanpo Wathon”), Surabaya. (Diakses dari eprints.upnjatim.ac.id pada 18 Oktober 2015)

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: