Kebebasan Berekspresi Seiring Waktu: Radio Amatir hingga Line@

LAPORAN WAWANCARA

Kebebasan Berekspresi Seiring Waktu: Radio Amatir hingga Line@

Ilham Dary Athallah (16/294558/SP/27164)

Picture1

Ditemui di toko bangunan di daerah Trangkil, Pati, Bapak Haji Madun yang berprofesi sebagai mandor, menjabarkan pemahaman beliau berkenaan dengan pembahasan “Kebebasan Berekspresi” dengan sangat ramah. Kebebasan berekspresi yang dianggapnya sebagai salah satu anugerah terbaik Tuhan bagi umat manusia yang patut disyukuri, karena belum tentu semua orang memiliki kesempatan yang sama seperti kita saat ini.

Bapak Haji Madun, selanjutnya disebut Pak Haji, merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang telah cukup makan asam garam dalam hal kebebasan berekspresi. Berasal dari kegemarannya suka berbicara, menjalin pertemanan, dan utak atik instrument elektronika, Pak Haji menekuni dunia radio amatir sejak tahun 1985 dan hingga kini masih terdaftar sebagai pengguna radio amatir yang telah disertifikasi oleh Kemkominfo dan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI).

Berbicara dan memancarkannya dalam suatu jaringan radio oleh pengguna amatir jamak disebut dengan istilah brik-brikan. Istilah ini berasal dari kata break (ganti) yang diucapkan pembicara dalam jejaring radio amatir setiap bergiliran dalam berbicara[1]. Penggunaan radio amatir pun bervariasi hampir di segala bidang: bahasan berat layaknya sosial politik dan seruan aksi, sekedar membicarakan kehidupan dan menjalin silaturahmi, atau bahkan mojok, istilah yang digunakan pengguna radio amatir untuk sepasang pemuda pemudi yang menggunakan frekuensi tersebut secara personal untuk menjalin asmara. Pak Haji pun menceritakan bahwa istrinya juga sempat aktif menggunakan radio amatir pada masanya, seraya mengiyakan pertanyaan tentang pernahkah Pak Haji mojok di radio. Radio amatir adalah candunya generasi 80an, layaknya Pokemon Go hari ini.

Dalam penjabarannya, Pak Haji menceritakan tentang suka duka menjalani dunia brik-brikan, utamanya pada masa orde baru yang dianggapnya represif terhadap kebebasan berekspresi dan suara oposisi. Pak Haji yang menyebut dirinya sebagai Sukarnois dan Marhaenis Hardcore itu pun kesulitan dalam menyampaikan pendapatnya secara terbuka. Tidak sedikit ujarnya, penyiar yang hilang begitu saja akibat terlampau vokal menyampaikan kegundahannya melawan penguasa. Oleh karena itu, Pak Haji menekankan pentingnya mensyukuri kebebasan berekspresi saat ini. Apalagi dengan masifnya perkembangan teknologi untuk kepentingan komunikasi lewat beragam aplikasi di gawai pintar dan medium internet yang menawarkan fitur beragam. Misalnya Line yang menawarkan fitur chat dengan stiker menarik disertai linimassa antar personal, ataupun medium jarkom via bulk email ataupun Line@.

Memang benar bahwa kebebasan berekspresi merupakan hak asasi setiap manusia, tapi bukan berarti dalam menghadapi perkembangannya saat ini kita hanya cukup bersyukur. Penulis beranggapan bahwa kebebasan berekspresi selayaknya disikapi lebih dari sekedar hak, tetapi juga terdapat kewajiban dan tanggung jawab yang besar bagi kita dalam menjalaninya.

Dalam e-book Linimas(s)a, Anggara Suwahju menekankan pentingnya merawat kebebasan berekspresi dalam medium internet yang berbasis atas 3 prinsip dasar yang harus dipahami netizen. Pertama, pengguna internet harus jujur dan adil dalam mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Kedua, pengguna internet memperlakukan sumber informasi sebagai manusia yang harus mendapatkan penghormatan. Ketiga, pengguna internet harus dapat terbuka dan bertanggung jawab[2].

Kini pertanyaan muncul bagi kita generasi muda. Apakah kita sudah bersyukur dengan kebebasan berekspresi kita hari ini? Dan apabila kita sudah bersyukur, sudahkah kita menggunakannya secara bijaksana?

*Artikel ditampilkan di ilhamdatha.wordpress.com & idary.web.ugm.ac.id


PROFIL NARASUMBER

Madun – 48 Tahun

Domisili Trangkil Pati. Pegiat Radio Amatir


 

[1] ORARI, “Istilah & Singkatan Umum dalam Radio Amatir,” Orari (blog), https://orari8.wordpress.com/orari/istilah-singkatan-umum-dalam-amatir-radio/ .

[2] Anggara Suwahju, “Merawat Kebebasan Berinternet di Indonesia,” @Linimassa Pengetahuan adalah Kekuatan, 2011, diakses 10 Juli 2015, repository.mdp.ac.id/ebook/library-mpg-jpg/linimassa .

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: