Lebih dari Sekedar Manusia: Menjadi Insan Gadjah Mada Sejati

Lebih dari Sekedar Manusia: Menjadi Insan Gadjah Mada Sejati

Ilham Dary Athallah (16/294558/SP/27164)

maxresdefault

Enam puluh enam tahun sudah Universitas Gadjah Mada kokoh berdiri menghadapi tantangan setiap era, dan menjadi tugas kita seluruh civitas akademika untuk membuatnya kedepan tetap demikian. Dibentuk dengan jati diri dan cita cita luhur sebagai universitas perjuangan1, mahasiswa Gadjah Mada di era yang relatif lebih damai dari zaman awal Prof. Sardjito awal memimpin Universitas Gadjah Mada2 tidak perlu lagi melakukan perjuangan fisik yang sama, walau tetap dibebani ekspektasi agar tetap menjaga semangat yang sama menggelora dalam jiwa untuk melakukan eksplorasi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diiringi pengembangan keahlian dan internalisasi karakter masing masing individu tanpa melupakan pengabdian masyarakat sesuai asas Tri Dharma Perguruan Tinggi3. Sungguh cita cita yang utopis, tapi bukan berarti mustahil untuk dilaksanakan, dan tidak pula tertutup kemungkinan kegagalan akan selalu menghantui. Karena berhasil tidaknya kita menjadi bagian dalam membawa bahtera Gadjah Mada dan Indonesia ini akan tercermin dari usaha kita menghadapi tantangan nyata terbaru bernama globalisasi.

Tidak perlu penulis menjabarkan tentang unsur dan makna globalisasi, pentingnya menghadapi globalisasi dengan tetap menjaga nilai luhur kebudayaan bangsa, ataupun kewajiban generasi muda terus melakukan sebaik baiknya karena akan menerima estafet kepemimpinan bangsa. Sudah terlampau banyak artikel dan diskusi mengenai hal tersebut, sudah terlalu banyak juga nasihat orang tua ataupun khutbah para pemuka agama tentang hal hal tersebut. Tetapi dalam setiap kesempatan, bangsa ini selalu menunjukkan kenyamanannya dalam kegagalan menyikapi globalisasi, seakan seluruh usaha dan nasihat itu tak berarti.

Ketika kita berbicara tentang menghadapi globalisasi di bidang ekonomi lewat mendukung produk dalam negeri, tetapi bermodalkan raga muda kita, stigma yang agak garang, dan bendera organisasi masyarakat yang mentaut suku, agama, atau ideologi, lalu berkeliling di “daerah kekuasaan” untuk meminta tunjangan hari raya atau sekedar uang keamanan4, disitulah kegagalan bangsa menghadapi globalisasi bermula.

 

Ketika kita mengecam ketertinggalan kita dalam pembangunan di segala bidang karena korupsi tetapi dalam mengikuti ujian nasional masih membeli, menggunakan, dan mengedarkan kunci jawaban ujian nasional[5], ataupun alpa dalam melakukan kewajiban bekerja dengan melakukan titip absen di kantor padahal cuti bersama lebaran sudah terlewati[6], disitulah kita seakan menikmati bersama awal kegagalan bangsa dalam menghadapi globalisasi.

Globalisasi tak bisa lagi sekedar dimaknai sebagai dunia yang tak berbatas atau percepatan perkembangan teknologi saja, tetapi juga harus dimaknai sebagai kemungkinan tak terbatas di segala bidang, termasuk seharusnya dalam hal perbaikan diri dan karakter. Dalam Rencana Strategis Universitas Gadjah Mada Tahun 2012-2017, disebutkan bahwa salah satu ancaman nyata yang dihadapi UGM dan bangsa ini adalah  persaingan global dan industrialisasi pendidikan yang semakin menguat dapat menjebak perguruan tinggi melakukan internasionalisasi penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi sempit, hanya untuk menarik perhatian pasar, serta menanggalkan idealisme dan pendidikan yang berkarakter.

Dalam rapat dengar pendapat Kementerian Pendidikan Kebudayaan dengan DPR RI, Menteri Pendidikan Anies Baswedan menyebutkan bahwa generasi kedepan akan menghadapi tantangan keahlian yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya[7]. Mekanisasi segala bidang industri membentuk dunia kerja yang menempatkan manusia sebagai pemikir, perumus kebijakan, pengendali mutu, dan tidak lagi hanya mengandalkan satu spesifikasi keahlian. Hal senada diungkapkan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UGM dalam sambutan PPSMB[8]. Disinilah dibutuhkan karakter berintegritas, kreatif, ilmu komunikasi, serta pemahaman multi disiplin ilmu untuk menghadapi tantangan perkembangan jaman dan globalisasi. Mendukung premis tersebut, artikel yang dirilis World Economic Forum tentang sepuluh keahlian paling dibutuhkan tahun 2030[9] yang tidak memuat keahlian mekanis spesifik tetapi memuat keahlian soft skills layaknya kemampuan complex problem solving, pemikiran kritis, dan kemampuan berinteraksi, berkomunikasi, dan bernegosiasi.

Sebagai institusi yang memiliki visi untuk menjadi pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya bangsa berdasarkan Pancasila, Universitas Gadjah Mada memiliki kewajiban untuk menanamkan nilai nilai dasar luhur yang dianut (Pancasila, Keilmuan, dan Kebudayaan) seiring dengan pengembangan aspek kemampuan akademis dan kognitif kepada seluruh civitas akademika tanpa terkecuali dan menyebar kepada masyarakat pada akhirnya. Dengan 9.000an mahasiswa memasuki kampus setiap tahunnya untuk mengenyam pendidikan, ratusan ribu tercatat sebagai alumni yang mengabdi di segala bidang, dan tingginya jumlah kajian yang dilaksanakan kampus, bukanlah hal sulit bagi nilai nilai dasar luhur Gadjah Mada untuk terselip dalam kehidupan sehari hari ataupun dalam perumusan kebijakan bangsa.

Presiden RI, Ir. Djoko Widodo ketika menjadi Wali Kota Surakarta pernah diwawancara Kabare KAGAMA (majalah yang dikelola Keluarga Alumni Gadjah Mada) tentang kebijakannya yang selalu merakyat, menyatakan bahwa sifatnya tersebut antara lain diperoleh dari UGM. Dulu, UGM menunjukkan pada beliau bagaimana berpihak pada rakyat. Kesederhanaan UGM juga tampak pada mahasiswanya yang memilih berjalan kaki atau bersepeda saat ke kampus[10]. Didampingi 5 menteri yang juga berstatus alumni UGM, nilai nilai dasar luhur UGM sudah mengalir dalam proses perumusan kebijakan kenegaraan yang menyangkut hajat hidup masyarakat banyak.

Pada akhirnya, bangsa ini membutuhkan lebih dari sekedar manusia yang bermimpi dan bercita-cita. Andai katapun negeri ini hanya memiliki 10 pemuda, Soekarno pernah menjanjikan akan mengguncang dunia. Bayangkan apabila saat ini Indonesia memiliki 10 pemuda yang sudah dibekali kemampuan akademis kognitif mumpuni disertai nilai luhur kegadjahmadaan siap mewujudkan cita cita Bung Karno. Berita baiknya, negeri ini setiap tahunnya memiliki 9.000an mahasiswa baru diterima di UGM yang siap dididik guna mewujudkan cita cita tersebut. Sudah siapkah seluruh civitas akademika UGM untuk bersama memenuhi ekspektasi tinggi ini dan menjadi insan Gadjah Mada sejati?

*Artikel ditampilkan di ilhamdatha.wordpress.com & idary.web.ugm.ac.id


1 Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2013 tentang Statuta Universitas Gadjah Mada, Pasal 9.

2 Heri Santosa, Sejarah Singkat Berdirinya Universitas Gadjah Mada, Website PPSMB UGM 2016, diakses pada 10 Juli 2016, http://ppsmb.ugm.ac.id/?page_id=447

3 Undang Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi, Pasal 1.

4  “Ketua FBR Anggap Wajar Jika Minta THR Ke Perusahaan,” Harian Indo, 18 Juni 2016, diakses pada 10 Juli 2016, http://m.harianindo.com/2016/06/18/116280/ketua-fbr-anggap-wajar-jika-minta-thr-ke-perusahaan/ .

[5] Polisi Tangkap Tiga Oknum Pengedar Kunci Jawaban UN di Makassar,” Tribun News, 5 April 2016, diakses pada 10 Juli 2016, http://www.tribunnews.com/regional/2016/04/05/polisi-tangkap-tiga-oknum-pengedar-kunci-jawaban-un-di-makassar .

[6] “Setelah Libur Lima Hari, Ratusan PNS Bolos Absen,” Tribun News, 9 Juli 2016, diakses pada 10 Juli 2016. http://kupang.tribunnews.com/2016/07/09/setelah-libur-lima-hari-ratusan-pns-bolos-absen .

[7] Rapat Kerja Lanjutan Kemdikbud dengan Komisi X DPR RI,  Facebook Live video, 55:00, dirilis oleh “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan”, https://web.facebook.com/Kemdikbud.RI/videos/931276590315115// , diakses pada 10 Juli 2016.

[8] Sambutan WRAKM, video, 5:00, dirilis oleh “Panitia Pusat PPSMB UGM 2016 http://ppsmb.ugm.ac.id/?page_id=447 , diakses pada 10 Juli 2016.

[9] “The 10 skills you need to thrive in the Fourth Industrial Revolution,” WE Forum, 19 Januari 2016, diakses pada 10 Juli 2016, https://www.weforum.org/agenda/2016/01/the-10-skills-you-need-to-thrive-in-the-fourth-industrial-revolution/ .

[10] Kiprah Kagama Mempertegas Jati Diri UGM. (Yogyakarta: Direktorat Kemahasiswaan UGM dan Pengurus Pusat KAGAMA, 2015), p. 14, Website PPSMB UGM 2016, diakses pada 10 Juli 2016, http://ppsmb.ugm.ac.id/?page_id=447

Categories: Uncategorized | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Lebih dari Sekedar Manusia: Menjadi Insan Gadjah Mada Sejati

  1. Narendra Wicaksono

    Mantap bener bung! Tulisan seorang calon mahasiswa aktivis nih!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: