Menggeser Jakarta, Memanusiakan Kendeng

Menggeser Jakarta, Memanusiakan Kendeng

Opini atas Artikel e-book @linimas(s)a “Menggeser Jakarta”

Ilham Dary Athallah (16/294558/SP/27164)

13615316_1359638710731878_2704329108177407110_n

Delapan belas tahun sudah orde baru digantikan oleh orde reformasi. Dengan tuntutan agungnya untuk memberikan ruang bagi pemenuhan keragaman potensi bangsa lewat otonomi daerah. Tapi cita-cita mulia itu masih jauh dari api, kalau tidak boleh hanya disebut sekedar mimpi indah di siang bolong. Landasan peraturan untuk mengembangkan potensi lokal sudah tersedia. Tapi fakta lapangan membuktikan bahwa masih banyak diantara kita yang menikmati langgengnya paradigma Jakarta sentris dalam setiap hal, termasuk publikasi media.

Dalam artikel yang dituliskan Shita Laksmi yang bertajuk “Menggeser Jakarta”, djiabarkan kentalnya kacamata Jakarta dalam segala bidang: pembangunan infrastuktur, pelayanan kebutuhan pokok layaknya kesehatan dan listrik, hingga penyiaran dalam media massa. Sudut pandang Jakarta dipaksakan untuk dikonsumsi khalayak nasional setiap harinya. Media mainstream menganggap yang penting untuk Jakarta adalah penting untuk semua wilayah di Indonesia. Bahkan penggunaan aksen dalam penyiaran di radio lokal cenderung dibawakan dalam logat metropolis Jakarta. Internet yang menempatkan pembaca menjadi subjek, mempopulerkan citizen journalism, dan interaksi dinamis dua arah lewat sosial media, menjadi titik cerah mulai munculnya sudut pandang baru serta aksi yang timbul pada setiap peristiwa. [1]

Sudah tak terhitung betapa banyak pergerakan yang terjadi tumbuh dari medium internet. Mulai fenomena Arab Spring yang menjatuhkan beberapa penguasa negara Timur Tengah dan merubah percaturan politik dunia[2], gerakan skala nasional berbasis empati seperti gerakan koin untuk prita[3], hingga gerakan berskala lokal ataupun dalam institusi yang merebak bak jamur di musim hujan. Salah satu gerakan yang menjadi perhatian penulis adalah gerakan Save Kendeng. Domisili penulis yang berada di lereng Gunung Kendeng (Kabupaten Pati), dan berada dalam komunitas masyarakat penghuni lereng gunung Kendeng membuat penulis memiliki ikatan batin tersendiri berkenaan dengan apa yang terjadi saat ini.

Gonjang ganjing Gunung Kendeng sebenarnya sudah bermula jauh sebelum hebohnya komentar sinis Dian Sastro tentang perjuangan Save Kendeng[4], ataupun pemasungan ibu-ibu dalam semen di depan istana negara untuk menuntut bertemu presiden[5], Masalah Gunung Kendeng sudah lama terjadi layaknya api di dalam sekam, yang sudah panas sejak 2006[6]. Saat itu Semen Indonesia mulai melakukan pendekatan persuasif pada masyarakat setempat (Pati dan Rembang) serta regulator dalam hal ini Pemerintah Kabupaten dan Provinsi (pada waktu itu masih dipimpin oleh Gubernur Letjen (Purn) Bibit Waluyo). Masyarakat setempat pun terbelah sama kuat antara pihak pro dan kontra pabrik semen[7]. Masalah muncul disini ketika kacamata Jakarta digunakan dengan mempropagandakan vitalnya penambangan Kendeng bagi pemenuhan kebutuhan untuk pembangunan infrastuktur nasional[8] dan mengesampingkan kepentingan perwujudan kemakmuran warga setempat yang sudah turun-temurun berbasis pada sektor agrikultur[9]. Tidak berhenti disana, kacamata Jakarta juga memposisikan orang Samin sebagai masyarakat bodoh, terbelakang, dan pembangkang.[10]

Viralnya film “Samin vs Semen” [11] yang menyebar secara daring di Youtube serta munculnya trending topic #DipasungSemen[12] di Twitter seakan menjadi titik balik perjuangan Save Kendeng. Publik perlahan memahami sudut pandang alasan warga setempat melakukan penolakan, utamanya masyarakat menengah perkotaan yang bertipikal apatis[13].

Perjuangan Kendeng bukanlah yang pertama sukses menggeser paradigma kacamata Jakarta berkat perkembangan sosial media dan internet, dan tak akan menjadi yang terakhir.

 

*Artikel ditampilkan di ilhamdatha.wordpress.com & idary.web.ugm.ac.id


[1] Shita Laksmi, “Menggeser Jakarta,” @Linimassa Pengetahuan adalah Kekuatan, 2011, 16 April 2016, diakses 10 Juli, 2015, repository.mdp.ac.id/ebook/library-mpg-jpg/linimassa .

[2] Peter Beaumont, “The truth about Twitter, Facebook and the uprisings in the Arab world,” The Guardian, 25 Februari 2011, diakses 10 Juli 2016, https://www.theguardian.com/world/2011/feb/25/twitter-facebook-uprisings-arab-libya .

[3] “Pesan Perlawanan Gerakan Pengumpulan Koin,” Koran Sindo, 27 Februari 2015, diakses 10 Juli 2016,  http://nasional.sindonews.com/read/969758/149/pesan-perlawanan-gerakan-pengumpulan-koin-1425011561 .

[4] Nazar Nurdin, “Terkait Aksi “Kartini Kendeng”, Ini Kata Dian Sastro,” Kompas, 16 April 2016, diakses 10 Juli 2016, http://regional.kompas.com/read/2016/04/16/16452231/Terkait.Aksi.Kartini. Kendeng.Ini.Kata. Dian.Sastro .

[5] Putu Merta Surya Putra, “Derita Warga yang Semen Kaki Demi Bertemu Jokowi,” Liputan6 News, 13 April 2016, diakses 10 Juli 2016, http://news.liputan6.com/read/2482855/derita-wanita-yang-semen-kaki-demi-bertemu-jokowi .

[6] M. Zainul Asror, “Konflik Tambang Semen di Rembang Jawa Tengah,” Coretan Kata (blog), 28 Mei 2015, diakses 10 Juli 2016, http://asror12.web.ugm.ac.id/2015/05/28/14/ .

[7] Aulia Bintang, “Masyarakat Terpecah Sikapi Pabrik Semen Gunung Kendeng,” CNN Indonesia, 13 April 2016, diakses 10 Juli 2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160413152400-20-123684/masyarakat-terpecah-sikapi-pabrik-semen-gunung-kendeng/ .

[8] “Pembangunan Pabrik Semen Diminta Tak Dihalang-halangi,” Koran Suara Merdeka, (18 Januari 2013): 31, diakses pada 10 Juni 2016, http://omahkendeng.org/2013-02/1236/pembangunan-pabrik-rembang/ .

[9] Ahmad Arif, “Perlawanan Elegan dari Petani Kendeng,” National Geographic, 13 Oktober 2014, diakses 10 Juli 2016, http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/1 0/perlawanan-elegan-dari-petani-kendeng .

[10] Edhie Prayitno Ige, “Prinsip Hidup dan Perlawanan Unik Kaum Samin,” Liputan 6 News, 15 April 2016, http://regional.liputan6.com/read/2483917/prinsip-hidup-dan-perlawanan-unik-kaum-samin .

[11] Rofiuddin, “Gubernur Jawa Tengah Persoalkan Film Samin vs Semen,” Tempo, 16 September 2015, diakses 10 Juli 2016,  https://m.tempo.co/read/news/2015/09/16/058701263/gubernur-jawa-tengah-persoalkan-film-samin-vs-semen .

[12] @CNNIDconnected, Twitter post, 12 April 2016, 5:21 a.m. https://twitter.com/CNNIDconnected/status/719863076305022976/photo/1 .

[13] Ratna Purnama, “Pengamat: Pola Hidup Kota Lahirkan Sikap Cuek,” Metrotvnews, 17 Desember 2013, diakses 10 Juli 2016, http://metro.sindonews.com/read/817933/31/pengamat-pola-hidup-kota-lahirkan-sikap-cuek-1387276011 .

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: