KRjogja.com (09/10) – Es Krim Nitrogen Zara-zara: Kisah Sahabat Sebangku yang Jatuh Bangun Mendirikan Imperium Bisnis

 

 

Bangkit Adi Purwa (tiga dari kanan), Adi Nugroho (tiga dari kiri), dan Tim Ice Cream Nitrogen Zara-Zara. Dimulai dari berdagang es krim keliling hingga ke Parangtritis, Ice Cream Nitrogen kini memiliki 30an karyawan dengan omzet hingga 170 juta rupiah per bulannya. (Foto: Instagram @adinugraha36)

 

Menjadi pengusaha muda adalah impian banyak generasi millennial. Impian tersebut muncul dengan beragam imajinasi kemapanan, kebahagiaan, dan ketentraman hidup yang dapat digapai apabila terjun ke dunia bisnis. Sosok layaknya Adi Nugroho dan Bangkit Adi Purwa sebagai pemilik kafe ice cream nitrogen Zara-zara yang cukup terkenal di Yogyakarta tentu tidak luput dari identifikasi demikian. Akan tetapi, siapa yang menyangka bahwa menjadi pengusaha muda juga berarti harus siap menanggung kerugian sembari menghidupi puluhan karyawannya, menghadapi birokrasi, persaingan, dan penggelapan, serta siap menerima caci maki hingga keputusan drop out dari kampus.

Adi Nugroho dan Bangkit Adi Purwa adalah dua individu yang saling bertolak belakang namun saling melengkapi. Adi yang berasal dari Makassar merupakan putra seorang dekan di Universitas Hassanudin yang menuntut ilmu di bidang ekonomi, sedangkan Bangkit yang berasal dari Pekanbaru mempelajari bidang eksakta. Adi merupakan sosok yang cukup nakal di kampung pada era kanak kanaknya dan kemudian dilepas merantau di Yogyakarta oleh orang tuanya semasa remaja untuk menemukan jati dirinya, sedangkan Bangkit adalah sosok yang cukup pendiam dan kalem. Sejak pertama kali bertemu ketika menuntut ilmu bersama di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, sahabat karib yang duduk sebangku itu telah berbisnis bersama walau berasal dari kalangan yang berkecukupan secara ekonomi. Menjadi mandiri sejak dini dan terus belajar sembari berguna bagi sesama merupakan cita-cita yang membawa mereka untuk terjun dan mengarungi suka duka dalam menjalami bisnis. Dalam perjalanan berbisnis, Adi seringkali diposisikan sebagai otak yang menelurkan ide-ide dan memanajemen dan Bangkit menjadi kaki dan tangan untuk merangkai dan mengeksekusi.

Awal Mula Berbisnis

Berawal dari keherannya ketika memperhatikan harga satu potong ayam goreng kesukaannya jauh lebih mahal daripada harga satu ekor ayam di kampung-kampung, Adi dan Bangkit mencoba untuk terjun ke dunia bisnis untuk pertama kalinya sebagai penyetor ayam. Adi dan Bangkit pergi ke peternak dan pasar hewan pada pagi buta untuk membeli ayam dan kemudian disetorkan ke rumah makan ataupun konsumen rumah tangga. Guna memenuhi ambisinya berdagang, Adi dan Bangkit harus rela menyisihkan uang saku hingga hanya makan satu kali sehari untuk modal jual-beli ayam. Ambisi dagang Adi dan Bangkit juga harus menghadapi rintangan yang begitu besar dengan cibiran dari teman-temannya yang menganggap dirinya menyusahkan diri sendiri. Seringkali, Adi dan Bangkit harus kehilangan waktu bermain bersama teman-teman maupun untuk belajar demi mengais rizki.

Perjuangan Adi dan Bangkit dibayar setimpal dengan keberhasilannya berdagang dan mendapat keuntungan yang cukup lumayan. Kemampuan Adi dan Bangkit yang mudah bergaul dan beradaptasi juga menjadi keuntungan dalam pengalamannya berbisnis. Kemampuan itu menjadikan Adi dan Bangkit dapat dengan cepat belajar bahasa Jawa, dan memiliki hubungan baik dengan banyak kenalan baik pemilik ternak, sesama pedagang, maupun konsumen.

Bisnis Adi dan Bangkit pun berlanjut ketika keduanya lulus dari bangku SMA dan menapaki jenjang pendidikan tinggi. Bisnis mereka berkembang hingga memiliki rental mobil, tur wisata, hingga perikanan. Namun masalah kurangnya kemampuan manajerial membuat semua bisnis tersebut harus gulung tikar. Masalah manajemen waktu juga memaksa Adi harus drop out dari program studi Ekonomi UII.

Bukan Adi dan Bangkit namanya apabila menyerah. Belajar dari pengalaman, mereka menyusun kembali strategi bisnis dari nol sembari menyeimbangkan kepentingan mereka untuk menuntut ilmu. Adi kemudian kembali berkuliah di UMY dengan prodi Akuntansi, sedangkan Bangkit di UNY mempelajari teknik mesin otomotif. Mereka berdua berkuliah sembari bekerja sebagai pegawai guna mengumpulkan uang untuk membangun kembali bisnis mereka.

Bangkit yang memiliki keahlian di bidang pengelasan bekerja sebagai karyawan seorang pemborong bidang konstruksi. Disana Bangkit belajar menghadapi birokrasi dalam lelang hingga berhadapan dengan distributor nakal yang mempermainkan harga bahan bangunan. Seringkali, Bangkit harus dibuat kecewa karena pasar dan birokrasi dimonopoli oleh pemilik modal yang itu-itu saja sehingga pemborong dan masyarakat kecil harus pasrah menerima keadaan. Sedangkan Adi, bekerja sebagai pramusaji di sebuah kedai es krim di Jogjakarta.

Ketika tabungan yang mereka sisihkan dirasa sudah cukup untuk memulai bisnis baru, Adi dan Bangkit kemudian kembali bekerjasama untuk berbisnis dagang es krim keliling. Bangkit yang ahli mengelas, memodifikasi motor bebeknya untuk dijadikan motor roda tiga yang memiliki bak terbuka. Motor tersebut kemudian digunakan untuk menjajakan es krim bekeliling Jogjakarta hingga ujung Parangtritis. Perjuangan Adi dan Bangkit berdagang es krim sangat berat. Jika pada siang hari Adi dan Bangkit harus menghadapi teriknya matahari demi menjajakan es krim, pada malam hari Adi dan Bangkit harus merelakan waktu istirahat demi memproduksi es krim yang akan mereka jajakan siang harinya. Perjuangannya berdagang es krim pun tak selalu berjalan mulus, pernah dalam suatu hari Adi dan Bangkit harus membuang 200 cup es krim karena masih tersisa bahkan setelah dibagi-bagikan secara gratis di sekitar rumah Adi dan Bangkit yang dijadikan tempat pembuatan es krim tersebut.

Pada tahun 2010-an, muncul tren es krim nitrogen di berbagai belahan dunia. Adi yang kemudian penasaran dan mencari tahu lebih dalam melalui buku dan internet tentang seluk beluk es krim nitrogen ini kemudian bekerja sama untuk membuat kafe yang pada saat itu masih jarang di Jogjakarta. Adi dan Bangkit membangun kafe es krim yang berada di Ring Road Utara tersebut sendiri, mulai dari desain, menumpuk bata dan menyemen, memasang keramik dan langit langit, hingga menata dekorasi. Kerja keras mereka terbayar dengan meledaknya popularitas es krim nitrogen di Jogjakarta hingga dapat mempekerjakan 30an karyawan dengan omzet hingga 170 juta tiap bulannya. Tantangan hari ini layaknya semakin kerasnya persaingan usaha kafe, sempat ditipu oleh pegawai dan digelapkan dananya hingga puluhan juta dan harus menanggung hutang besar pada supplier, hingga mulai redanya tren es krim nitrogen, tidak membuat Adi dan Bangkit menyerah. Sembari menata kembali dan menyelesaikan masalah yang menghadang, Adi dan Bangkit punya cita-cita untuk terus mengembangkan bisnisnya.

Memaknai Young Entrepeneurship

Adi dan Bangkit selalu berkeyakinan bahwa menjadi young entrepeneur adalah lebih dari sekadar mencari uang. Menjadi pengusaha adalah tentang bagaimana mengelola kesempatan untuk mengembangkan kepribadian, jiwa kemandirian, serta kemungkinan untuk menolong orang lain dan memberikan kesempatan layaknya lapangan kerja bagi yang membutuhkan.

Banyak anak muda yang memilih untuk menjadi young entrepeneur karena gagal dalam mencari pekerjaan. Menurut Adi dan Bangkit, hal ini tidak dapat dibenarkan. Menjadi young entrepeneur seharusnya menjadi panggilan hati karena tantangan yang dihadapi akan jauh lebih besar alih-alih hanya menjadi pilihan terakhir. Dalam hal pendidikan, banyak juga anak muda yang menganggap bahwa menjadi young entrepeneur adalah pelarian dari kegagalan akademik ataupun anggapan bahwa menjadi pengusaha tidak perlu pintar. Hal ini juga dianggapnya keliru. Walaupun Adi pernah drop out dari perkuliahan, Adi dan Bangkit selalu menekankan pentingnya belajar dan mencari ilmu guna menjadikannya landasan dalam berbisnis. Bisnis selayaknya tidak dijadikan ajang trial and error dan coba coba semata karena menyangkut uang dan kehidupan karyawan yang tidak sedikit, walaupun Adi dan Bangkit juga menekankan pentingnya untuk cepat beraksi dibanding menghabiskan waktu untuk berwacana dan memikirkan rencana bisnis.

Menjadi young entrepeneur juga berarti harus pintar membaca peluang dan berpemikiran kreatif dan terbuka. Kreatifitas akan membawa pengusaha muda ke peluang peluang yang bahkan sebelumnya tak pernah terbayangkan. Dan yang terakhir, penting bagi young entrepeneur untuk selalu bersyukur dan berserah diri kepada Tuhan. Karena seberat apapun cobaan yang kita hadapi ataupun sekeras apapun usaha yang kita lakukan, yang menentukan nasib kita adalah Tuhan semata. – ilham dary

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: