KRjogja.com (15/10) – Komunitas Mangaka Indonesia: Menuangkan Tinta di Buku Komik, Meninggalkan Jejak di Hati Sesama Komikus

Mangafest UGM ke-6 yang diselenggarakan di GOR Klebengan, Yogyakarta sejak Sabtu (15/10) pagi menghadirkan beragam kegiatan yang bernuansa kebudayaan Jepang layaknya comic market (penjualan buku komik), penampilan band, talkshow, kompetisi Cosplay, band, menggambar manga (komik Jepang), dan pameran stand makanan, komunitas, aksesori. Komunitas Mangaka Indonesia merupakan salah satu dari 120an stand yang tampil di Mangafest UGM. Komunitas ini adalah salah satu komunitas Manga terbesar di Indonesia dengan anggota 40.000 lebih. “Di seluruh Indonesia kami ada, saya disini sebagai anggota dari Regional Jogjakarta mewakili komunitas Mangaka.” Ujar Mas Imam Subekti, 24 tahun, salah satu penjaga stand Komunitas Mangaka Indonesia di Mangafest UGM.
Sebagai salah satu anggota awal dari komunitas tersebut, dirinya dan teman-temannya juga tidak menyangka bahwa komunitas yang diikutinya akan sebesar saat ini. Komunitas ini berawal dari keisengan beberapa pecinta Manga di beberapa wilayah Indonesia yang tidak bertatap muka secara langsung dan hanya mengenali masing-masing via jejaring sosial media Facebook. Mereka kemudian membuat grup Facebook pada tahun 2011 untuk saling berbagi gambar ciptaannya dan saling berbagi kritik saran. Seiring waktu dan meledaknya popularitas Manga di seluruh dunia, komunitas Mangaka menjadi diminati oleh masyarakat. “Kami berusaha menjadi wadah yang baik bagi seluruh pecinta manga di Indonesia. Kalau ingin membuat komik, buat saja. Jangan takut berbagi dan menerima masukan demi kebaikan. Jangan lupa juga terus belajar dan mencari referensi.” Ujar Mas Imam Subekti.
Kritik dan saran yang terus diberikan secara konstruktif kepada para anggotanya mendorong para anggota untuk membuat Manga yang lebih baik dan kemudian diterbitkan dan melejit di kalangan pecinta Manga. Sebut saja Beast Taruna, komik yang digambar oleh Mas Imam Subekti dengan ide bersama dengan temannya, Mas Aditya Wardana terjual cukup baik di acara Mangafest. Komik Beast Taruna ciptaannya menceritakan tentang alternatif sejarah yang menggambarkan keadaan dunia saat ini apabila Jerman dan Jepang memenangi perang dunia kedua.
Komik Manga memiliki beberapa perbedaan dari komik Indonesia ataupun komik Barat. Dalam gaya penggambaran, komik manga cenderung untuk menggambar anatomi tubuh figur dalam komik dengan mata yang cukup besar namun dengan badan yang kecil. Begitu pula dalam penggambaran karakter figur yang dalam pembentukannya sedikit-banyak terpengaruh budaya metropolitan Jepang yang banyak dialami dalam kehidupan komikus Jepang: seringkali cuek, pemalu, namun tetap penuh kesopanan dan nilai kebaikan. “Konfliknya juga menarik dan sedikit berbeda dari sudut pandang yang selama ini kita lihat di media mainstream, yang pasti (mempelajari Manga) memperkaya pengetahuan kita.” Ujar Wahyu Eko, 20 tahun, Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang UGM.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: