PERJUANGAN tak kenal lelah para pejuang republik menggempur NICA di Magelang akhirnya terbayar tuntas dengan terwujudnya perjanjian penghentian pertempuran.

Pada 1 November 1945 pukul 16:00, Soekarno melakukan rapat di Hotel Merdeka bersama dengan panglima sekutu divisi Semarang, Jenderal Bethel, untuk bersepakat bahwa pertempuran Magelang harus diakhiri keesokan harinya.

Koran Kedaulatan Rakyat edisi 2 November 1945 menjadi saksi berakhirnya pertempuran Magelang serta dokumen lengkap kesepakatan yang dilakukan Soekarno dan Jenderal Bethel.

Kejadian pertempuran Magelang dapat ditarik kembali sejak 24 September 1945. Pada waktu itu pesawat Inggris menerjunkan tentara di Lapangan Tidar (kini menjadi Akademi Militer 1945).

Pejuang yang melihat gelagat sekutu tersebut langsung menghajar tentara Inggris. Keesokan harinya, 25 September 1945 pada waktu subuh, ratusan pemuda naik ke puncak gunung tidar dan berhasil menancapkan dan mengibarkan bendera merah putih.

Pertempuran berlangsung selama beberapa minggu. Memahami bahwa teknologi persenjataan yang digunakan pasukan sekutu cukup canggih, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan pejuang merebut bekas persenjataan peninggalan Jepang yang masih berada di Magelang secara diplomatis.

Pada 13 Oktober 1945, Mayor Jenderal Nakamura yang berdomisili di Jalan Kartini Magelang didatangi para pemuda untuk berunding guna membantu perjuangan para pejuang. Jepang yang dalam posisi terdesak karena sudah kalah dan tidak memiliki nilai tawar akhirnya menyetujui permintaan tersebut.

Keesokan harinya, TKR dan pejuang telah memiliki pesenjataan yang memadai serta mortar dan rudal anti pesawat. Melihat perang yang semakin berkecamuk, Soekarno sebagai panglima tertinggi mengeluarkan maklumat pada 30 Oktober 1945 yang mengamanatkan TKR dari daerah sekitar Magelang untuk bersiap dan membantu perjuangan dalam pertempuran Magelang.

Keesokan harinya, kesepakatan telah dibuat dan pada 2 November 1945 pertempuran Magelang resmi berakhir. 42 orang yang gugur dalam pertempuran tersebut akan terus dikenang sebagai pahlawan bangsa. (Ilham Dary Athallah)