AMELA Ruby Hagieswari dan Bowen Sutanto sukses menjadikan karya iklannya ‘Si Multinasionalis’ meraih Gold dalam Pinasthika Creativestival XVII untuk kategori AdStudent. Dua mahasiswa desain grafis di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini menyisihkan 4 finalis lain di babak akhir.

Dua mahasiswa angkatan angkatan 2013 ini mengapresiasi kegiatan AdsStudent Pinasthika. “Ini lomba pertama kali ikut desain iklan. Ada workshop dan brainstorming yang seru untuk tambah ide,” kata Amel.

Dalam seleksi awal sebelum terpilih menjadi satu diantara lima finalis lomba iklan Pinasthika, Amel dan Bowen membuat iklan yang bertajuk ‘Si Multinasionalis’. Iklan yang menampilkan jeans lokal Leans yang ditutupi oleh bendera Indonesia ini bertujuan untuk menyindir produsen lokal yang acapkali berbau luar negeri.

Padahal produsen lokal seharusnya bangga dengan image Indonesia. “Indonesia ini mampu lho. Indonesia itu bisa sukses kalau management bagus. Jadi tidak perlu foreign branding.” Ujar Bowen.

‘Si Multinasionalis’ karya Amel dan Bowden

Ketertarikan Amel dan Bowen terjun dan berkecimpung di dunia periklanan pada awalnya didasari keprihatinannya dengan dunia periklanan Indonesia. Indonesia yang memiliki potensi lokal yang luar biasa seringkali merasa malu untuk menampilkannya dan memilih untuk meniru produk asing.

Selain itu, iklan-iklan yang ada di Indonesia seringkali masih menggunakan pendekatan sexual appeal. Pendekatan tersebut menjadikan iklan-iklan yang ada di Indonesia seringkali menampilkan objek berbau seks maupun menggairahkan guna menawarkan produk yang dibawakan. “Potensi Indonesia sangat besar. Bukan hanya eksploitasi sex appeal, ” Seru Bowen.

Selain itu, Amel dan Bowen juga seringkali menemukan iklan yang mengganggu dan dianggapnya menyebalkan. Misalnya reklame yang bertebaran di tepi jalan menutup pemandangan dan menjadi sampah visual.

Menurut mereka, desainer iklan tidak hanya berkewajiban menjual produk yang dipasarkannya. Namun desainer juga harus bertanggung jawab bagi lingkungan dan masyarakat sekitar terdampak. Hal ini dilakukan agar ada ikatan yang saling menguntungkan antara iklan dan masyarakat.

“Apalagi saat ini pilkada. Poster fotonya gede padahal kita sudah tahu wajah mereka. Kan kurang efektif dan mengganggu. Inilah pentinya strategi dalam beriklan.”

Kegundahan hati Amel dan Bowen tersebut akhirnya mendorong Amel dan Bowen menawarkan karya-karyanya ke perusahaan yang membutuhkan jasa kreatif. Ide-ide yang didapat Amel dan Bowen acapkali datang dari searching di media sosial dan riset terhadap fenomena sekitar.

Amel dan Bowen menganalogikan proses pembuatan iklan layaknya pasangan yang sedang dilanda asmara. Pembuatan iklan yang melibatkan perasaan dan nilai penuh cinta akan menjadikan iklan memiliki makna dan nilai. “Buat iklan itu kayak pacaran, pahami dulu (penontonnya) dan dekati dengan hati,” ujar Amel dan Bowen sembari menatap satu sama lain.

Namun sayang, karya Amel dan Bowen seringkali dianggap berbeda dan aneh oleh klien dan akhirnya harus menuruti kemauan klien yang menggunakan cara berfikir konvensional iklan yang sama. Desain yang menurutnya dibuat dengan kerja keras pada akhirnya disepelekan oleh klien.

“Kita sudah jabarin idealisnya kita begini. Tapi lagi lagi kita berpasrah sama client, karena dia yang decide yes or no. Ga mudah padahal buatnya.” Kedepan, dirinya ingin agar apresiasi masyarakat terhadap desainer lebih baik. “Lebih dihargai lagi lah kita desainer ini.” (Ilham Dary)

Baca Juga :

Kuliner Sabang Sampai Marauke, Nikmat Mana yang Didustakan